Pelangi Di Atas Langit Singasari
Jilid 7
PRAJURIT KAWAN KEBO IJO itu tertawa. Ketika debu yang
dihambur-hamburkan oleh kuda-kuda itu telah hilang bersama hilangnya Witantra
di belakang tikungan, berkatalah prajurit itu, “Witantra adalah seorang
prajurit yang tidak saja tegas dalam setiap tindakan, namun ia adalah kakak
seperguruan Mahendra. Kau lihat, bahwa tangan-tangannya yang besar itu pasti
akan mampu memutar lehermu sampai patah.”
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi kini
sampailah gilirannya untuk menjadi kecewa. Dikaguminya kejantanan kakak seperguruan
Mahendra itu dahulu, ketika Kebo Ijo berbuat curang. Namun tiba-tiba kini
demikian saja ia mempereayai segala cerita-cerita kosong itu. Meskipun
demikian, belum juga timbul maksudnya untuk berbuat sesuatu. Dibiarkannya
prajurit yang tinggi besar itu mendorongnya terus. Tetapi ketika ia melihat
prajurit yang membawa cemeti masih berjalan di belakangnya, maka Mahisa Agni
tersenyum di dalam hati. Masih juga dilihatnya di antara orang-orang yang
terlalu bernafsu untuk kemenangan sendiri itu, orang-orang yang dapat berpikir
tenang.
Perjalanan mereka semakin lama semakin
desak pula dengan rumah Witantra. Kebo Ijo semakin lama menjadi semakin
gembira. Ia menyangka, bahwa kakak seperguruannya akan menyelesaikan masalah
ini dengan sebaik-baiknya. Mudah-mudahan Kakang Witantra marah pula kepada
Wiraprana. Apabila demikian, maka Wiraprana itu pasti akan ditantangnya,
berkelahi. Seorang lawan seorang, Seperti juga kebiasaan Kakang Witantra
menghadapi lawan-lawannya.
Tetapi Kebo Ijo itu heran melihat
Mahendra berjalan sambil menunduk. Berbeda dengan Kebo Ijo, maka Mahendra itu
menjadi gelisah. Katanya di dalam hati, “Bagaimanakah nanti akibatnya, kalau
kakak seperguruannya itu menyuruh untuk menyelesaikan perkelahian di
hadapannya? Mudah-mudahan para prajurit itu menuntut Mahisa Agni dalam
persoalan yang lain. Penghinaan, misalnya. Atau membuat gaduh di dalam kota.
Atau apapun yang harus ditindak oleh para petugas.”
Akhirnya sampai juga mereka di halaman
rumah Witantra itu. Beberapa prajurit segera menahan orang-orang lain untuk
tidak masuk ke dalam halaman yang luas itu. Hanya beberapa orang yang dapat
dianggap sebagai saksi sajalah yang mereka perbolehkan masuk di samping Mahisa
Agni dan Mahendra Sendiri.
Witantra sedang duduk di atas sebuah
amben kayu di dalam rumahnya. Ketika ia melihat beberapa orang masuk ke
pekarangan segera ia berdiri dan menyambut mereka di pintu.
Kepada prajurit yang membawa Wiraprana
ia berkata, “Bawa anak muda itu masuk bersama Mahendra dan Kebo Ijo.”
Sesaat kemudian mereka telah duduk di
amben kayu itu pula. Dengan tajamnya ia memandangi wajah Mahisa Agni. Namun
ketika matanya beradu dengan mata Mahisa Agni yang seakan-akan menyala Witantra
itu mengalihkan pandangannya ke arah Mahendra, sambil berkata, “Kenapa kalian
berkelahi?”
Kembali yang mendahului menjawab adalah
Kebo Ijo, “Sudah aku katakan sebabnya Kakang.”
Witantra mengerutkan keningnya.
Kemudian katanya kepada Mahisa Agni, “Aku sangat menyesal bahwa hal ini
terjadi. Kenapa kau berbuat demikian?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam
untuk menenangkan hatinya.
Peristiwa ini benar-benar tak
menyenangkannya. Ia ingin segalanya segera selesai, kemudian cepat-cepat pulang
ke Panawijen. Tetapi Mahisa Agni itu pun tidak perlu terlalu tergesa-gesa,
karena yang ditakutkannya, Kuda Sempana masih dilihatnya di dalam kota.
Meskipun demikian, maka sudah pasti
Mahisa Agni tidak mau menjadi korban dari perbuatan-perbuatan yang memuakkan
itu. maka dengan tenangnya ia menjawab, “Witantra, apakah kau dapat mempereayai
kata-kata Kebo Ijo?”
“Aku menjadi saksi,” tiba-tiba teriak
salah seorang anak muda kawan Kebo Ijo.
“Aku juga,” teriak yang lain.
Dan yang terakhir prajurit kawan Kebo
Ijo itu pun berkata, “Aku juga menjadi saksi.”
Witantra mengerutkan keningnya. Sejenak
ia berdiam diri. Dan tiba-tiba ia memandang kepada prajurit Yang bereemeti,
“Apakah yang akan kau katakan?”
Prajurit yang bereemeti itu sebenarnya
akan mengatakan sesuatu, namun belum mendapat kesempatan. Ketika Witantra itu
bertanya kepadanya segera ia membungkuk hormat sambil menjawab, “Aku hanya
ingin mengatakan, bahwa aku tidak dapat menjadi saksi, sebab aku datang setelah
perkelahian itu berlangsung.”
Kembali Witantra mengerutkan keningnya,
kemudian kepada prajurit kawan Kebo Ijo ia bertanya, “Apakah kau melihat sebab
perkelahian itu?”
“Ya tentu,” sahut prajurit itu, “aku
datang lebih dahulu sebelum aku mengajak beberapa orang kawan untuk menangkap
anak Panawijen itu.”
Witantra mengangguk-anggukkan.
kepalanya, Meskipun demikian ia masih bertanya kepada Mahisa Agni, “Apakah
benar kata mereka?”
Mahisa Agni menggeleng, “Tidak!”
“Bohong!” bentak prajurit kawan Kebo
Ijo.
“Aku yang bertanya kepadanya,” potong
Witantra. Prajurit itu pun terdiam.
Kini Witantra melihat sikap-sikap yang
kurang wajar dari adik seperguruannya. Ia melihat sikap Kebo Ijo yang agak
berlebih-lebihan. Ia melihat pemuda-pemuda itu pun bersikap kurang wajar pula
karena itu justru ia menjadi curiga. Dengan tajamnya dipandangnya wajah
Mahendra. Dan ketika terasa tatapan mata kakak seperguruannya itu, maka
Mahendra pun segera menundukkan wajahnya.
Kemudian sekali lagi Witantra itu
bertanya kepada Mahisa Agni, “’Wiraprana, apakah yang sebenarnya terjadi?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
Kali ini ia benar-benar ingin melihat, sampai di mana kejujuran yang dimiliki
oleh adik-adik seperguruan Witantra itu. Karena itu, sebelum ia menjawab
pertanyaan itu, maka katanya, “Witantra. Cobalah kau bertanya kepada Mahendra.
Biarlah ia berkata di bawah saksi Yang Maha Agung.
Tiba-tiba terasa dada Mahendra itu
berdesir. Terasa keringat dinginnya mengalir membasahi tubuhnya. Dan
sebenarnyalah Witantra itu berpaling kepadanya. Sejenak Witantra itu melihat
perubahan wajah adik seperguruannya itu. Karena itu maka ia menjadi semakin
curiga. Karena itu, maka Witantra ingin mendapat kepastian dari persoalan-
persoalan yang dihadapinya. Kepada Mahendra ia bertanya, “Mahendra, demi Yang
Maha Agung katakanlah sebenarnya apa yang telah terjadi. Apakah Wiraprana
benar-benar telah menghinamu?”
“Benar Kakang,” jawab kebo Ijo.
Tetapi ia terkejut ketika Witantra
membentaknya, “Diam kau Kebo Ijo!”
Mahendra kini benar-benar dihadapkan
pada suatu keadaan yang sulit. Terjadilah perjuangan di dalam dadanya.
Sekali-kali ia melihat Kebo Ijo dan beberapa anak muda yang lain dengan sudut
matanya. Hampir saja ia menganggukkan kepalanya. Tetapi ketika terpandang
olehnya pancaran mata kakak seperguruannya, maka mulutnya seakan-akan tergetar
hendak mengatakan sesuatu.
“Mahendra, jawablah pertanyaanku!”
desak kakak seperguruannya.
Ruang itu menjadi semakin tegang. Kebo
Ijo, anak-anak muda yang lain, prajurit kawan Kebo Ijo dan beberapa prajurit
yang lain, di antara yang membawa cambuk itu.
Tiba-tiba semua yang memandang wajah
Mahendra itu menjadi terkejut bukan main. Kebo Ijo, anak-anak muda yang lain,
para prajurit dan bahkan Witantra dan Mahisa Agni sendiri. Mereka melihat,
perlahan-lahan Mahendra menggelengkan kepalanya.
“Apa?” bertanya Witantra hampir
berteriak, “jadi Wiraprana itu sebenarnya tidak menghinamu dan menghina
anak-anak Tumapel?”
Sekali lagi Mahendra menggeleng.
“Lalu apakah yang telah terjadi?”
“Aku ingin membalas dendam,” berkata
Mahendra perlahan-lahan sekali
Witantra itu pun menarik nafas
dalam-dalam, tetapi ia terkejut ketika ia mendengar suara Kebo Ijo dalam nada
yang tinggi, “Tidak Kakang. Kakang Mahendra terlalu baik hati. Sebenarnya anak
Panawijen itu telah menghina kami. Karena…”
Kata-kata Kebo Ijo itu terputus. Betapa
ia terkejut dan semua orang pun terkejut ketika tiba-tiba mereka mendengar Kebo
Ijo itu mengaduh. Anak muda itu tergeser beberapa jengkal sehingga hampir saja
ia terguling. Dengan serta-merta tangannya meraba pipinya yang tampak
kemerah-merahan. Ternyata Witantra itu telah menamparnya. Dengan tajam kakak
seperguruannya itu membentaknya, “Jagalah mulutmu Kebo Ijo!”
Kebo Ijo itu menjadi gemetar. Alangkah
malunya. Karena itu maka ia pun menjadi marah bukan buatan. Tetapi ia tidak
berani berbuat apapun kepada kakaknya.
“Jadi kalian semua telah mencoba
berbohong?” bentak Witantra dengan marahnya, “Apakah sebabnya kalian berbuat
demikian. Kenapa?”
—–
….. Kebo Ijo mengaduh, dia tergeser beberapa jengkal sehingga hampir saja ia
tergulingi. Ternyata Witantra telah menamparnya.
—–
Ruangan itu kembali menjadi sunyi.
Hanya nafas Kebo Ijo sajalah yang terdengar terengah-engah. Sedang matanya
menjadi merah pula karena marahnya.
Witantra yang kemudian menjadi sangat,
marah pula berkata kepada prajurit kawan Kebo Ijo, “Jadi kau pun ikut pula
dalam kebohongan ini?”
Prajurit kawan Kebo Ijo itu benar-benar
menjadi bingung. Ia sama sekali tidak tahu, bagaimana ia harus menjawab
pertanyaan itu. Karena itu, ia hanya berdiri saja seperti patung.
Karena prajurit itu tidak segera
menjawab, maka sekali lagi Witantra membentaknya, “He. Kau juga ikut
berbohong?”
“Tidak. Tidak,” jawabnya tergagap, “aku
tidak sengaja.”
“Apa yang tidak sengaja,” desak
Witantra.
Kembali prajurit itu menjadi bingung.
Dengan tanpa berpikir panjang ia menjawab, “Aku tidak bermaksud berbohong:
Tetapi aku menyangka bahwa hal itu benar-benar terjadi.”
“Jadi kau tidak melihat sendiri?”
“Tidak,” prajurit itu menggeleng, “aku
mendengar dari Kebo Ijo.”
Kebo Ijo menjadi semakin bergetar
mendengar pengaduan itu. Tetapi ia tidak dapat, berbuat apa-apa. Tetapi
Witantra itu masih membentak bawahannya, “Kau menjadi pereaya tanpa
penyelidikan lebih lanjut?”
Prajurit itu menjadi semakin bingung.
Akhirnya ia menjawab, “Ya. Aku begitu saja pereaya, sebab Kebo Ijo adalah
kawanku sendiri.”
“Itulah sebabnya, maka anak-anak muda
itu benar-benar menjadi liar.”
Meskipun Wiraprana sebenarnya tidak
mengatakan, namun hati kecil kalian telah berkata sendiri, ‘Kalian benar-benar
menjadi liar, karena kawan-kawan kalian, di antaranya prajurit, selalu
membesarkan hati kalian. Dengan demikian kalian merasa aman untuk berbuat apa
saja sekehendak kalian’.
Ruangan itu menjadi sepi kembali. Dan
kembali Mahisa Agni mengagumi kakak seperguruan Mahendra itu. Ia benar-benar
seorang prajurit yang berpegang teguh pada sumpahnya sebagai prajurit. Meskipun
Mahendra, Kebo Ijo adalah adik seperguruannya, namun ia berkata salah apabila salah
dan ia akan berkata benar apabila benar. Dengan demikian maka kebenaran
benar-benar akan dapat ditegakkan.
Kini ia melihat adiknya itu berbuat
curang. Bahkan telah meninggalkan sifat-sifat ke kesatriaan, karena itu
alangkah marahnya. Apalagi seorang anak buahnya telah ikut serta berbuat
kesalahan itu.
Dengan wajah yang menyala-nyala ia
memandang Kebo Ijo. Anak itu benar-benar anak yang bengal. Sekali-sekali
ditatapnya juga wajah Mahendra. Anak muda ini, biasanya tidak suka berbohong
dari mengorbankan nama baiknya Tetapi kali ini ia hampir tergelincir dalam
perbuatan yang memalukan itu. Untunglah bahwa kesalahan itu segera disadarinya.
Namun meskipun demikian. Mahendra telah berbuat kesalahan. Karena itu dengan
marahnya Witantra menggeram, “Perkelahian akan dilanjutkan.”
Namun terdengar kemudian Mahendra yang
telah menyadari keadaannya menyahut dengan jujur, “Tidak. Aku sudah
dikalahkannya.”
Witantra menarik nafas. Tetapi mata
Kebo Ijo menyala karenanya.
Suasana kemudian dicengkam oleh
kesepian.
Dalam keheningan suasana itu,
terdengarlah Mahisa Agni berkata, “Witantra, aku akan mengucapkan terima kasih
kepadamu dan kepada adikmu, Mahendra. Sebenarnya tak ada niatku untuk membuat
hal-hal yang kecil ini menjadi persoalan. Karena itu, marilah persoalan ini kita
anggap selesai. Sebab aku masih ada mempunyai beberapa keperluan yang lain.”
Witantra tidak segera menjawab. Kini
seperti juga Mahisa Agni mengaguminya, maka Witantra itu pun kembali mengagumi
kebesaran jiwa Mahisa Agni yang disangkanya bernama Wiraprana itu. Meskipun
beberapa orang telah berusaha menghinanya, namun ia sama sekali tidak
mendendam.
Sesaat kemudian, maka barulah Witantra
itu berkata, “Tinggalkan kami di sini bersama Wiraprana. Pergilah semuanya!”
Mahendra yang masih menundukkan
kepalanya, itu pun segera bergerak dan meninggalkan tempat itu. Berbagai
perasaan berkecamuk di dalam dirinya. Sesal, malu, kecewa dan segala macam
bereampur baur di dalam dadanya..
Kebo Ijo, anak-anak muda yang lain,
para prajurit itu pun segera pergi pula meninggalkan mereka. Dengan
tergesa-gesa Kebo Ijo menyusul Mahendra sambil berkata, “Kakang, kenapa Kakang
menarik tuduhan itu?”
Mahendra berpaling sesaat. Tetapi ia
tidak menjawab. Bahkan langkahnya semakin dipereepat.
Kebo Ijo yang berjalan di sampingnya
memandangnya dengan penuh penyesalan. Anak-anak muda yang beriringan di
belakangnya pun menyesal pula atas sikap Mahendra itu Namun mereka tidak
berkata apa-apa.
Di rumah Witantra, kini tinggallah
Mahisa Agni seorang diri bersama Witantra duduk berhadapan di atas amben kayu.
Setelah mereka diam sejenak, maka berkatalah Witantra , “Wiraprana, biarlah aku
minta maaf kepadamu atas nama anak-anak muda yang bengal itu.”
“Sudah aku katakan Witantra, persoalan
ini aku anggap selesai. Dan secepatnya aku akan mohon diri untuk satu keperluan
yang lain.”
“Terima kasih. Aku hormati pendirianmu
itu. Tetapi apakah keperluan itu sedemikian tergesa-gesa?”
“Tidak, tetapi aku ingin segera pulang
ke Panawijen, setelah aku agak lama meninggalkannya?”
“Apakah kau baru datang dari suatu perjalanan?”
“Ya,” sahut Mahisa Agni.
Witantra mengangguk-anggukkan
kepalanya. Dilihatnya sebuah bungkusan terikat erat di lambung Mahisa Agni.
Namun ia tidak sempat lagi membawa tongkat setelah ia berkelahi melawan
Mahendra. Untunglah bahwa bungkusannya itu tidak terlepas dari ikatannya.
Sehingga tanpa disengaja Witantra itu bertanya, “Apakah isi bungkusanmu itu?”
“Ah, hanya dua lembar pakaian,” sahut
Mahisa Agni.
Witantra mengangguk-angguk pula. Namun
tiba-tiba ia berkata, “He, apakah kau akan pulang ke Panawijen?”
Mahisa Agni mengangguk. “Ya,” sahutnya.
“Baru saja aku bertemu dengan Kuda
Sempana. Ia pun agaknya sedang menuju ke kampung halamannya. Ketika aku
bertanya kepadanya, ia hanya menjawab, ‘Aku pergi untuk satu dua hari’.
Kata-kata terdengar seperti guntur yang
meledak di telinga Mahisa Agni. Kuda Sempana pulang ke kampung halaman
Panawijen, selagi ia tidak di rumah.
Witantra melihat perubahan wajah Mahisa
Agni. Karena itu ia menjadi heran.
Sejenak kemudian bertanyalah Mahisa
Agni dengan suara yang bergetar, “Kapankah Kuda Sempana itu pulang ke
Panawijen?”
“Belum lama,” jawab Witantra.
“Belum lama aku melihatnya.”
“Mungkin. Aku melihat Kuda Sempana
memacu kudanya. Dan demikianlah jawabnya ketika aku bertanya kepadanya.”
“Gila!” geram Mahisa Agni di dalam
hatinya. Segera ia tahu apa yang dilakukan oleh Kuda Sempana itu. Ketika Kuda
Sempana itu melihat Mahisa Agni berada di Tumapel, maka segera ia mempergunakan
kesempatan itu sebaik-baiknya.
Dalam pada itu keheranan Witantra
semakin menjadi, maka kemudian ia pun bertanya, “Kenapa kau menjadi gelisah?”
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Semula
ia menjadi agak ragu-ragu. Namun kemudian terpaksa ia berkata, “Maksud Kuda
Sempana pulang ke kampung halaman sangat mencurigakan.”
“Kenapa?”
Kembali Mahisa Agni terdiam. Namun
tiba-tiba Witantra itu pun menjadi gelisah. Dengan serta-merta ia berkata, “He,
apakah gadis Panawijen itu bernama Ken Dedes?”
Terasa sesuatu berdesir di dada Mahisa
Agni. Namun ia menganggukkan kepalanya.
“Ya. Itulah nama gadis itu. Bunga di
kaki Gunung Kawi, yang telah membuat Mahendra hampir-hampir gila. Yang telah
membuat Mahendra mendendam kepadamu. Namun sebenarnya aku pernah mendengar Kuda
Sempang mempereakapkan gadis itu pula.”
“Mungkin kau benar,” sahut Mahisa Agni.
“Kalau demikian, apakah kau sangka
bahwa Kuda Sempana akan mempergunakan kesempatan selama kau berada di Tumapel?”
“Mungkin,” sahut Mahisa Agni dengan
suara parau, “kalau demikian biarlah aku segera kembali.”
“Aku tidak dapat mencegahmu, Wiraprana.
Mudah-mudahan kau tidak terlambat.”
Mahisa Agni menggeram sekali lagi,
kemudian dengan tergesa-gesa ia minta diri. Dengan penuh pengertian Witantra
itu melepaskan Mahisa Agni sampai ke regol halamannya.
Mahisa Agni itu pun kemudian berjalan
hampir berlari-lari. Dari kejauhan Witantra memandangnya dengan iba.
“Anak yang baik,” gumamnya., “Kasihan.
Tanpa dikehendakinya, ia mempunyai banyak lawan. Agaknya Kuda Sempana yang tadi
melihat anak itu, segera mempergunakan kesempatan.”
Dan Mahisa Agni itu pun semakin lama
menjadi semakin jauh. Akhirnya anak muda itu seakan-akan hilang ditelan oleh
kelokan jalan.
Mahisa Agni sendiri menjadi sangat
gelisah karenanya. Ia menjadi pasti, bahwa bencana akan menimpa Ken Dedes dan
Wiraprana. Kuda Sempana pasti akan mempergunakan segenap kemampuan yang ada
padanya untuk menebus kekalahannya. Bahkan kalau mungkin membunuh sekali.
Dengan demikian maka Mahisa Agni itu
benar-benar seperti orang yang kehilangan kesadaran. Ia sama sekali tidak
menaruh perhatian terhadap keadaan di sekelilingnya. Ia sama sekali tidak
memedulikan bahwa beberapa orang yang dijumpainya memandanginya dengan penuh
pertanyaan. Kenapa anak muda itu berlari-lari?
Tetapi jarak Panawijen dan Tumapel
bukan jarak yang pendek. Jarak itu akan ditempuh lebih dari sehari penuh.
Meskipun Mahisa Agni kemudian berlari, namun ia tak akan dapat mencapai jarak
itu secepat-cepatnya. Selisih waktu yang dialaminya dari Kuda Sempana, agaknya
akan dapat memberi kesempatan bagi Kuda Sempana melakukan niatnya. Apalagi
setelah didengarnya bahwa Kuda Sempana kini telah memiliki puncak ilmu dari
perguruannya seperti juga Bahu Reksa Kali Elo. Karena itu, maka kembali Kuda
Sempana itu akan berkata, ‘Rawe-rawe rantas, malang-malang putung’.
Mahisa Agni menjadi semakin gelisah.
Apalagi kalau diingatnya bahwa Kuda Sempana pasti tidak hanya berlari-lari
seperti dirinya, tetapi anak muda yang gagah itu pasti berkuda.
Mahisa Agni itu pun menggeram
berkali-kali. Namun ia benar-benar masih harus berlari. Langkahnya semakin lama
semakin panjang. Namun terik matahari yang membakar tubuhnya menjadi semakin
panas. Bekas-bekasnya yang putih menghambur di sepanjang jalan yang dilalui
oleh Mahisa Agni. Menyusup disela-sela dedaunan dan jatuh di atas batu-batu
padas yang bertebaran di sepanjang jalan.
Mahisa Agni itu terasa akan terbang.
Langkahnya terasa sedemikian lambatnya. Kalau sekali-kali ia memandang ke depan
maka segera jantungnya berdebar-debar. Di hadapannya masih terbentang sawah
yang sangat luas. Tetapi apabila sawah ini sudah dilampaui, ia sama sekali
belum mendekati Panawijen. Sebuah hutan terbentang jauh di muka. Seleret
pepohonan yang semakin lama seolah-olah menjadi semakin besar. Hutan itu pun
bukanlah layar yang terakhir yang menakbiri Panawijen. Di seberang hutan itu,
terentang sebuah sungai. Kembali ia akan melampaui daerah persawahan. Sawah
hutan, sawah, hutan berkali-kali. Kemudian ia dapat lewat di tengah-tengah
padang rumput Karautan, atau lewat jalan lain. Namun selisih jarak daripadanya
tidak begitu banyak. Baru setelah itu ia akan sampai ke Panawijen. Namun secepat-cepatnya,
apabila ia tidak perlu berhenti sama sekali, besok pagi ia baru akan sampai.
Tetapi apakah tenaganya akan mampu untuk berlari terus dalam jarak yang sekian
jauh.
Tetapi Mahisa Agni tidak boleh
berhenti. Ia berlari terus.
Tiba-tiba Mahisa Agni itu pun terkejut
mendengar derap kuda di belakangnya. Ketika ia berpaling dilihatnya debu
mengepul. Putih dan semakin lama semakin tinggi terbang ke udara.
Mahisa Agni mengerutkan keningnya.
“Siapa?” desisnya. Tetapi ia terkejut ketika ia melihat penunggangnya adalah
Mahendra.
Karena itu maka Mahisa Agni menjadi
berdebar-debar karenanya. Ia masih belum dapat melupakan, apa yang baru saja
dilakukan oleh Mahendra itu. Mahisa Agni berdebar-debar karena
kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan oleh Mahendra, tetapi juga
berdebar-debar karena dengan demikian, kedatangannya di Panawijen akan menjadi
semakin lambat.
Kuda yang berlari kencang itu semakin
kencang juga. Semakin lama semakin dekat. Dan sejalan dengan hati Mahisa Agni
menjadi semakin berdebar-debar juga.
“Kalau anak muda itu berhasrat
menghambat perjalananku,” desah Mahisa Agni dalam hatinya, “maka aku tidak akan
dapat memaafkannya lagi.”
Tetapi kuda itu sudah sedemikian
dekatnya, sehingga Mahisa Agni pun berhenti pula karenanya. Dengan penuh kewaspadaan
anak muda dari Panawijen itu berdiri tegak seperti tonggak yang kokoh kuat
terhunjam jauh ke dalam tanah.
Ketika Mahendra melihat Mahisa Agni itu
berhenti, maka segera ia menarik kekang kudanya, sehingga kuda itu berhenti
beberapa langkah di hadapan Mahisa Agni. Demikian kuda itu berhenti, demikian
Mahendra itu segera meloncat turun.
Mahisa Agni itu pun segera menggeser
diri selangkah surut, siap menghadapi setiap kemungkinan yang akan terjadi.
Tetapi ia terkejut ketika ia melihat
Mahendra itu menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Aku datang untuk minta
maaf kepadamu, Wiraprana.”
Mahisa Agni menarik nafas panjang.
Panjang sekali. Ia menjadi kecewa terhadap peresaannya sendiri. Ternyata ia
terlalu berprasangka. Karena itu, maka segera ia menjawab, “Ah Mahendra. Hampir
aku salah sangka. Ternyata aku pun harus minta maaf kepadamu. Dan karena itulah
maka biarlah persoalan di antara kita, kita anggap selesai.”
“Terima kasih,” sahut Mahendra. Yang
kemudian diteruskannya, “Tetapi kedatanganku menyusulmu ada juga kepentingan
yang lain dari kepentinganku sendiri.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya,
“Apakah kepentingan yang lain itu?”
“Kakang Witantra baru saja datang
kepadaku. Disuruhnya aku menyusulmu untuk mengantarkan kuda ini kepadamu.”
“Kuda?” sahut Mahisa Agni dengan
serta-merta.
“Ya,” Mahendra mengangguk, “kata Kakang
Witantra kau memerlukannya untuk menyusul Kuda Sempana.”
“Kuda? Kuda?” hampir tak pereaya Mahisa
Agni bergumam.
Tetapi Mahendra itu menegaskan, “Ya
Wiraprana, inilah kuda Kakang Witantra. Bawalah!”
Terasa sesuatu berdesir di dalam dada
Mahisa Agni. Begitu besar terima kasihnya sehingga untuk sesaat ia tidak dapat
mengucapkannya. Ketika Mahendra memberikan kendali kuda itu kepadanya, barulah
Mahisa Agni berkata, “Terima kasih. Terima kasih Mahendra. Dan terima kasihku
kepada Witantra. Aku tak akan melupakan kebaikan budi kalian.”
“Aku hanya seorang pesuruh Wiraprana.
Akan aku sampaikan terima kasihmu itu kepada Kakang Witantra.”
“Tidak saja Witantra. Tetapi kau pun
berjasa pula kepadaku.”
Mahendra mengangguk-anggukkan
kepalanya. Kemudian katanya, “Selamat jalan Wiraprana. Bukankah kau
tergesa-gesa. Sebenarnya aku pun tak akan dapat melihat Kuda Sempana mencapai
maksudnya. Bukankah anak muda itu pun akan merampas hak yang sudah kau miliki?”
Dada Mahisa Agni berdesir. Alangkah
manisnya kata-kata itu, namun alangkah pahitnya pula. Mahendra tidak dapat
melihat Kuda Sempana merampas Ken Dedes yang pasti didengarnya dari Witantra,
namun Ken Dedes itu sama sekali bukan hak yang telah dimilikinya. Tetapi apa
yang dilakukan itu adalah atas nama Wiraprana. Dan Wiraprana kelak pasti hanya
akan mengucapkan terima kasihnya saja kepadanya.
Tetapi sebenarnya Mahisa Agni tidak
mempunyai pamrih. Seandainya Wiraprana kelak tidak mengucapkan terima kasih
pun, ia tidak akan menyesal. Dengan kesetiaannya ia berusaha membuat Ken Dedes
bahagia. Kesetiaan yang tidak diketahui sama sekali oleh orang lain. Namun
kesetiaan itu benar-benar telah membakar dadanya.
Kini Mahisa Agni menerima kuda itu.
Kuda yang tegar, berwarna sawo. Tidak kalah tegarnya dengan kuda yang
dipergunakan oleh Kuda Sempana tadi.
Setelah sekali lagi Mahisa Agni
mengucapkan terima kasih, maka ia segera meloncat ke punggung kuda itu.
Meskipun demikian ia masih bertanya, “Sekarang, kau tidak lagi berkendaraan
Mahendra?”
Mahendra tertawa pendek. “Jarak yang
harus kutempuh terlalu pendek dibandingkan dengan perjalananmu. Biarlah aku
pulang dengan berjalan kaki. Hampir setiap hari aku sampai di sini pula.”
“Selamat tinggal Mahendra,
mudah-mudahan aku tidak terlalu terlambat.”
Mahendra mengangguk. Perlahan-lahan ia
bergumam, “Aku akan lebih berbahagia kalau kau berhasil, Wiraprana.”
“Terima kasih, terima kasih.”
Mahisa Agni itu pun segera memacu
kudanya seperti angin. Ia ingin cepat-cepat sampai ke Panawijen. Namun ia pun
ingin cepat-cepat melupakan setiap kata-kata Mahendra. Karena itu, maka kudanya
yang telah berlari kencang itu, masih saja terasa, alangkah lambatnya.
Seakan-akan suara Mahendra masih mengiang di telinganya, ‘Aku akan lebih
berbahagia kalau kau berhasil, Wiraprana’.
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Kuda
itu dipacu semakin cepat. Namun hatinya telah berlari lebih cepat daripada
kaki-kaki kuda itu.
Kuda Mahisa Agni itu meluncur seperti
anak panah yang lepas dari busurnya. Kepulan debu yang putih bergulung-gulung
di belakang kaki kudanya. Pepohonan yang tegak di pinggir-pinggir jalan,
seakan-akan berlari cepat ke belakang, Sedang hutan-hutan yang terbujur di
hadapannya, seperti berlari menyongsongnya. Semakin lama semakin besar. Dan
semakin lama, semakin jelas setiap batang-batang yang tumbuh di sepanjang
tepinya.
Tetapi gelora di dalam dada Mahisa Agni
sendiri itu pun menjadi semakin keras. Bermacam-macam persoalan hilir mudik di
dalam dadanya. Sekali-kali jauh di dasar hatinya terdengar pula suara, ‘Mahisa
Agni Kenapa kau menjadi sedemikian cemasnya? Bulankah Ken Dedes telah mempunyai
seorang pelindung yang harus melindunginya. Kalau Wiraprana tak sanggup
bertanggung jawab terhadapnya maka lebih baik ia melepaskan ikatan yang telah
dijalinnya. Ia menginginkan hak itu, namun ia tak mampu memikul kewajibannya’.
Namun kemudian terdengar suara yang
lain, ‘Itu bukan salahnya. Dunia di sekitarnya yang masih sebuas hutan rimba.
Kalau setiap orang menyadari hak dan kewajiban masing-masing, maka tak akan ada
persoalan lagi. Meskipun Wiraprana tak mampu untuk berkelahi, namun dalam
peradaban yang baik tak perlu ia harus berkelahi. Karena Wiraprana bukan tidak
mengerti akan kewajibannya, tetapi ia sebenarnya tidak mampu menghadapi
kebuasan lingkungannya, maka apa salahnya aku menyelamatkannya’.
Terdengar Mahisa Agni itu menggeram di
atas punggung kudanya. Dan kuda itu masih berlari secepat angin. Sekali-kali
Mahisa Agni mengusap wajahnya yang dipenuhi oleh debu yang melekat karena
peluhnya yang membasahi kulitnya. Sekali-sekali dirabanya bungkusannya yang
melingkari lambungnya, berbelitan dengan ikat pinggangnya. Dan terasa di
dalamnya, keris peninggalan ayahnya. Kalau Kuda Sempana menjadi gila, maka ia
pun kini bersenjata.
Matahari yang mengapung di langit bergeser
setapak demi setapak. Kini matahari itu telah melampaui puncak langit, dan
telah mulai dengan perjalanannya untuk bersembunyi di balik pegunungan. Namun
sinarnya masih juga terasa membakar kulit. Debu yang putih yang dihamburkan
oleh kaki-kaki kuda Mahisa Agni, tampak bergulung-gulung. Kemudian buyar ditiup
angin dari selatan. Jauh di langit kadang-kadang tampak burung-burung cangak
beterbangan di atas tanah yang basah. Namun Mahisa Agni tidak sempat untuk
memperhatikannya. Kudanya yang berpacu itu serasa seakan-akan betapa malasnya.
Sekali disentuhnya perut kuda itu dengan kakinya, sehingga kuda itu meloncat
semakin cepat.
Sesaat kemudian Mahisa Agni telah masuk
melintas jalan-jalan di tengah-tengah hutan. Perjalarannya kini tidak dapat
secepat semula. Sekali-sekali beberapa potong dahan-dahan kayu yang patah,
serta sulur beringin tua, mengganggu perjalanannya. Sedang jalan menjadi
bertambah sempit. Tetapi kuda itu masih berlari terus, tanpa menghiraukan
apapun yang mungkin akan memperlambat.
Demikianlah Mahisa Agni berpacu melawan
waktu. Sebab Kuda Sempana telah jauh mendahuluinya. Ia harus sampai di
Panawijen sebelum Kuda Sempana telah melarikan Ken Dedes. Mudah-mudahan gurunya
telah kembali. Tetapi agaknya Empu Purwa masih di perjalanan, bahkan menurut
keterangannya, gurunya itu masih akan singgah di rumah sahabat-sahabatnya
setelah ia merasa menurunkan ilmunya yang tertinggi kepada muridnya.
Seolah-olah pekerjaan Empu Purwa itu telah selesai, dan kini ia tinggal
menikmati masa istirahatnya.
Agaknya Empu yang sudah lanjut usia itu
telah mempereayakan segala sesuatunya kepada Mahisa Agni, satu-satunya muridnya
yang lahir batinnya benar-benar mengagumkan baginya.
Karena itu Mahisa Agni menjadi semakin
gelisah. Sesudah hutan ini masih terentang jalan yang sangat panjang. Namun
berterima kasihlah ia kepada Witantra dan Mahendra yang telah menolongnya
mempereepat perjalanannya dengan kecepatan yang berlipat ganda. Kalau ia harus
berjalan, maka sudah hampir dapat dipastikan bahwa ia akan jauh terlambat. Dan
ia tinggal akan menemukan bekas- bekas dari bencana itu. Meskipun demikian,
kegelisahan masih saja menyala-nyala di dalam dadanya. Meskipun ia kini telah
dapat mempereepat perjalanannya, namun ia masih mencemaskan, bahwa Kuda Sempana
benar-benar tidak mampu mengekang dirinya, sehingga sejak langkahnya yang
pertama, ia telah bermata gelap.
Sebenarnyalah pada saat itu, Kuda
Sempana pun sedang berpacu menuju ke Panawijen.
Ketika anak muda itu bertemu dengan
Mahisa Agni di Tumapel, maka tiba-tiba timbul niatnya untuk menumpahkan
kemarahannya dan dendamnya. Sebab kini ia merasa, bahwa ia telah memiliki bekal
yang jauh lebih banyak daripada saat ia dikalahkan oleh Mahisa Agni. Tetapi
keadaan Tumapel agaknya tidak menguntungkannya. Mungkin beberapa orang melihat,
bahwa Mahisa Agni tidak bersalah pada waktu itu sehiugga akibatnya akan tidak
menguntungkan baginya. Karena itu, maka ia mengambil jalan yang lain untuk
menumpahkan dendamnya. Segera ia memacu kudanya menemui pimpinannya untuk mohon
diri dua tiga hari. Ia dapat saja memberikan segala macam alasan untuk pulang
ke kampung halaman. Kalau kelak Ken Dedes telah dapat dirampasnya,dan
dilarikannya, maka apa yang akan terjadi akan dihadapinya dengan dada tengadah.
Wiraprana, Mahisa Agni dan siapa lagi. Tetapi gadis itu harus sudah di
tangannya dan disembunyikannya dahulu.
Karena itu, maka ia pun kemudian
berpacu kembali ke Panawijen. Ia harus langsung pergi ke rumah Empu Purwa.
Minta gadis itu untuk dibawanya. Kalau tidak boleh, maka ia akan mempergunakan
kekerasan. Ia tidak takut seandainya seluruh cantrik dari padepokan itu akan
mengeroyoknya. Bahkan orang-orang seluruh padukuhan. Dengan ayunan tangannya ia
mampu membunuh siapa saja yang mendekatinya.
Kuda Sempana itu kemudian tersenyum
sendiri. Ia tidak menyangka bahwa ia harus mengambil seorang gadis dengan cara
yang aneh itu. Tetapi betapapun bahaya yang akan dihadapinya, namun ia tidak
akan surut. Ia pernah mendengar juga bahwa Mahendra pun pernah menginginkan Ken
Dedes itu pula. Maka seandainya Mahendra itu pun datang kepadanya, maka ia pun
tidak akan gentar. Bahkan seandainya Witantra sekali pun. Meskipun Kuda Sempana
itu agak seimbang juga menilai kekuatan Witantra. Sebab ia tahu benar, apa saja
yang pernah dilakukan oleh Witantra itu sebagai seorang prajurit.
Tetapi Kuda Sempana itu menggeram,
“Persetan semuanya! Akulah Kuda Sempana!”
Dengan demikian maka Kuda Sempana
kemudian berusaha menindas semua persoalan yang tumbuh di dalam hatinya.
Tekadnya telah bulat, melarikan Ken
Dedes dengan segala akibatnya.
Kini Kuda Sempana itu tertawa seorang
diri. Tertawa untuk melepaskan kegelisahan-kegelisahan yang merayapi hatinya.
Ia benar-benar tidak mau tahu apapun yang mungkin terjadi karena perbuatannya
itu. Anak muda itu telah berusaha untuk membutakan matanya dan menulikan
telinganya. Persetan semuanya! Persetan!
Maka kudanya kini menjadi semakin laju.
Terasa angin yang kencang menghembus wajahnya. Namun wajah itu pun
ditengadahkannya. Bahkan ia bergumam, “Siapakah yang berani menghalangi Kuda
Sempana?”
Meskipun demikian, Kuda Sempana itu
berdebar-debar pula ketika ia meninggalkan daerah-daerah hutan yang terakhir.
Ia tidak menempuh jalan yang biasa dilalui oleh Mahisa Agni, padang rumput
Karautan. Namun Kuda Sempana melingkar sedikit, lewat padukuhan Talrampak.
Meskipun seperti Mahisa Agni anak muda itu sama sekali tidak takut kepada
apapun, juga yang dahulu sering disebut hantu padang rumput, namun Kuda Sempana
tidak mau perjalanannya dihambat. Meskipun ia mendengar juga, bahwa hantu
padang rumput itu kini telah tidak ada lagi, namun lebih baik baginya melewati
jalan yang paling aman, daripada ia terlambat.
Demikianlah Kuda Sempana akhirnya telah
melampaui perjalanannya yang tergesa-gesa. Dengan gagahnya ia memacu kudanya,
masuk .ke padukuhan tempat kelahirannya. Panawijen.
Beberapa orang yang sedang bekerja di
sawah melihatnya dengan heran. Bukankah anak itu seakan-akan telah disingkirkan
untuk waktu yang tertentu. Maka tiba-tiba kini ia datang kembali dengan
tergesa-gesa. Apakah waktu yang ditentukan itu telah habis?
Orang itu pun kemudian ber-bisik-bisik
satu sama lain. Sehingga kemudian seorang arak muda berkata, “He, apakah Kuda
Sempana telah sampai waktunya pulang?”
Seorang yang berdahi lebar menjawab,
“Aku sangka belum.”
Anak muda itu mengerutkan keningnya.
Tiba-tiba ia berkata, “He. Bukankah Mahisa Agni belum kembali?”
“Kenapa?”
“Bukankah dahulu Mahisa Agnilah yang
berhasil mencegahnya mengambil langsung Ken Dedes dari pinggir belumbang?”
Orang berdahi lebar itu
mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kuda yang ditunggangi oleh Kuda Sempana
sudah tidak tampak lagi di mata mereka.
“Marilah kita lihat. Apakah anak muda
yang gagah itu masih saja melakukan perbuatan-perbuatan yang tereela itu.”
Kedua orang itu pun kemudian
bergegas-gegas meninggalkan sawah mereka. Beberapa orang yang lain pun segera
mengikutinya.
Sampai di sudut padukuhan mereka,
mereka bertanya kepada seorang anak kecil, “Kau lihat searang penunggang kuda?”
Anak itu mengangguk, “Ya.”
“Ke mana?”
“Masuk kemari. Dan berbelok ke kiri.
“Ke kiri?”
“Ya. Kenapa?” anak kecil itu menjadi
keheranan.
“Tidak apa-apa nak. Tetapi jangan
ber-main-main di tengah jalan. Kau lihat kuda yang berlari kencang ini tadi
bukan?”
Anak itu mengangguk.
Kedua orang itu pun berjalan pula
menuruti jalan yang ditempuh oleh Kuda Sempana dengan berdebar-debar.
“Jalan ini menuju ke rumah Empu Purwa.”
“Ya,” jawab yang lain.
“Apakah anak itu masih gila seperti
dahulu?”
“Mungkin.
Beberapa orang yang mendengar suara
kaki kuda berderap itu pun memerlukan untuk melihatnya. Ketika mereka melihat
kedua orang yang kuat itu, maka mereka kemudian saling berbicara.
“Aku ikut,” berkata beberapa anak muda.
“Apakah Wiraprana di rumah?” bertanya
salah seorang di antaranya.
“Mudah-mudahan. Sejak Mahisa Agni
pergi, kemudian Empu Purwa pergi pula, Wirapranalah yang diserahi untuk
mengawasi padepokan itu. Mudah-mudahan ia berada di sana.”
“Tetapi Wiraprana tak dapat mencegahnya
seperti dahulu.”
“Wiraprana tidak sendiri. Di padepokan
itu ada beberapa orang cantrik.”
“Mari kita lihat. Kita tidak akan
membiarkan kawan-kawan kita dicederainya.”
“Anak-anak muda Panawijen bukanlah
anak-anak muda yang senang bertengkar. Kehidupan yang damai selama ini, sama
sekali tidak menggerakkan mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan kekerasan.
Karena itu, maka tidak banyak di antara mereka, yang telah mempelajari
cara-cara tata bela diri. Meskipun demikian, mereka memiliki kesetia kawanan
yang tinggi. Kebiasaan mereka bekerja bersama-sama. Membuat parit-parit,
bendungan dan sambatan membangun rumah, adalah pencerminan dari cara hidup
mereka yang rukun.
Dengan tergesa-gesa beberapa anak muda
itu berjalan mengikuti telapak kaki kuda yang dipakai oleh Kuda Sempana.
Semakin lama mereka menjadi semakin berdebar-debar. Kuda itu benar-benar menuju
ke padepokan Empu Purwa.
Sebenarnya Kuda Sempana langsung menuju
ke rumah Empu Purwa. Ia takut kalau Mahisa Agni segera pulang, dan menggagalkan
maksudnya pula. Karena itu, maka akan dipergunakannya waktu sebaik-baiknya.
Langsung mengambil gadis itu, dan dibawanya ke Tumapel. Disembunyikannya gadis
itu di rumah sahabatnya, dan akan dihadapinya setiap bencana yang akan
mengancamnya. Sampai nanti saatnya Ken Dedes melahirkan. Setelah itu, semuanya
akan beres. Tak seorang pun yang akan dapat menuntutnya. Meskipun di Tumapel
tinggal pula Mahendra, namun ia tidak takut melawan anak itu, meskipun ia belum
pasti apakah ia akan dapat mengalahkannya
Meskipun tekadnya telah bulat, namun
semakin dekat Kuda Sempana dengan rumah Empu Purwa, hatinya menjadi semakin
berdebar-debar juga.
Kedatangan Kuda Sempana di padepokan
itu benar-benar mengejutkan. Deru kaki kudanya seakan-akan membelah kedamaian
halaman yang sunyi itu. Beberapa orang cantrik yang sedang bekerja di halaman,
segera meletakkan alat-alat mereka. Dengan bergegas mereka menengok ke pintu
gerbang. Siapakah yang datang berkuda itu?
Ketika mereka melihat seorang anak muda
yang tampan, maka mula-mula mereka menjadi kecewa. Yang mereka harapkan sejak
berhari-hari adalah Mahisa Agni, atau Empu Purwa sendiri. Namun yang datang
bukanlah salah seorang dari mereka.
Tetapi ketika mereka sadar, siapakah
anak muda yang masih saja duduk di punggung kuda itu mereka terperanjat.
“Kuda Sempana,” terdengar beberapa
orang di antara mereka berdesis.
Kuda Sempana telah menghentikan
kudanya. Namun ia masih duduk di atas punggung kuda itu. Ditebarkannya
pandangannya berkeliling. Dilihatnya beberapa orang cantrik dan emban satu demi
satu muncul dari balik pepohonan dan dinding-dinding rumah. Dan dilihatnya pula
mereka menjadi terkejut karenanya.
Hati Kuda Sempana itu berdesir ketika
tiba-tiba muncul dari balik pintu pringgitan, seorang anak muda yang tegap
tampan. Wiraprana.
Alangkah terkejutnya Wiraprana itu.
Beberapa saat ia tegak saja seperti patung. Ditatapnya Kuda Sempana yang masih
duduk di atas punggung kuda seperti menatap wajah hantu.
Ketika pada saat itu seorang gadis yang
berlari-lari dari belakang muncul pula di ambang pintu, maka dengan serta-merta
Wiraprana mendorongnya sambil bergumam, “Masuklah. Setan itu datang lagi.”
Ken Dedes masih belum sempat melihat
siapakah yang datang berkuda itu. Namun ia sadar, bahwa sesuatu yang tidak
wajar pasti terjadi. Karena itu maka ia pun bertanya perlahan-lahan, “Siapa?”
“Kuda Sempana,” desis Wiraprana.
“He?” Ken Dedes itu pun terkejut bukan
buatan. Terasa tiba-tiba kakinya gemetar dan darahnya seakan-akan membeku.
Dengan suara yang parau ia mencoba menjelaskan, “Kuda Sempana katamu?”
Wiraprana mengangguk. Desisnya,
“Masuklah.”
Ken Dedes tidak membantah. Segera ia
beringsut masuk kembali ke dalam rumah, bahkan langsung bersembunyi ke dalam
biliknya.
“Emban,” desahnya.
Seorang emban tua datang
menghampirinya. Ketika dilihatnya momongannya menggigil maka dengan heran ia
bertanya, “Siapakah yang datang itu?”
Ken Dedes terbungkam. Ia tidak berani
menyebut nama Kuda Sempana. Bibirnya seakan-akan tabu menyebut nama itu. Namun
tiba-tiba air matanya mengambang di antara pelupuknya. Patah-patah ia bergumam,
“Kenapa ayah tidak segera pulang? Atau Kakang Mahisa Agni?”
Emban tua itu menjadi bingung. Sekali
lagi ia bertanya, “Siapakah yang datang itu?”
“Anak itulah yang telah menghina namaku
di belumbang di tepian sungai beberapa bulan yang lalu.”
“Angger Kuda Sempana?”
“Jangan Bibi, jangan kau sebut nama
itu. Aku dapat menjadi pingsan karenanya.”
Emban tua itu mengerutkan keningnya. Ia
mendengar pula, apa yang pernah terjadi di pinggir sungai itu. Karena itu maka
ia pun ikut berdebar-debar pula karenanya. Meskipun demikian emban tua itu
masih mencoba menghiburnya, “Jangan cemaskan anak muda itu. Bukankah Angger
Wiraprana sedang berada di rumah ini?”
Ken Dedes menggelengkan kepalanya.
Namun ia tidak berkata apa-apa. Hanya di dalam hatinya terdengar kata-katanya,
“Wiraprana tidak dapat melawannya.”
Karena itu maka Ken Dedes menjadi
semakin cemas. Sekali-sekali matanya beredar di antara dinding-dinding
rumahnya, seolah-olah ia sedang mencari tempat untuk menyembunyikan dirinya.
Namun halaman rumahnya dikelilingi oleh sebuah pagar batu yang rapat. Sehingga
jalan satu-satunya yang dapat dilaluinya, hanya regol depan. Dan ia tidak
berani menampakkan dirinya ke halaman.
Sementara itu di halaman rumah Empu
Purwa yang luas itu Kuda Sempana masih duduk saja di atas punggung kudanya. Di
pintu rumah itu, Wiraprana berdiri tegak dengan tegangnya. Sesaat mereka hanya
saling memandang dengan tajamnya, seakan-akan dari kedua pasang mata itu
memancar dendam yang menyala-nyala.
Ketika kemudian Kuda Sempana meloncat
turun dari kudanya, maka Wiraprana pun melangkah melampaui tlundak pintu.
Perlahan-lahan ia berjalan melewati pendapa dan dengan getar yang semakin cepat
di dalam dadanya, ia melangkah turun tangga dan berdiri tegak di halaman pula.
Kini jarak mereka hanya tinggal
beberapa depa. Kuda Sempana masih sempat memandang berkeliling. Dan di sekitar
halaman itu dilihatnya beberapa orang cantrik dan emban berdiri pula dengan
tegangnya.
Kini Kuda Sempana kembali menatap wajah
Wiraprana. Dan tiba-tiba terdengar suaranya bergetar, “Apa kerjamu di rumah ini
Wiraprana?”
Wiraprana menyadari, dengan siapa ia
berhadapan. Karena itu maka ia menjawab tegas, “Aku berada di rumah bakal
mertuaku.”
“Gila!” teriak Kuda Sempana, “Jangan
kau ulangi!”
Wiraprana menjadi berdebar-debar
karenanya. Namun ia mengulangi kata-katanya, “Aku berada di rumah mertuaku.”
Kuda Sempana menggeram. Ia tidak berani
berbuat tergesa-gesa. Ia belum yakin benar, apakah selama ini Wiraprana sama
sekali tidak berusaha untuk mempelajari ilmu yang mungkin dapat menolong
dirinya.
Meskipun demikian, anak muda itu
benar-benar telah membakar dadarnya. Sehingga karena itu ia berkata lantang,
“Wiraprana, jangan menyombongkan dirimu. Seandainya kau kini berkawan dengan
dewa-dewa di langit sekali pun, namun kau bagiku tidak lebih dari seorang anak
yang manja. Karena itu, Wiraprana, jangan mencoba menghalangi aku kali ini. Aku
sangat tergesa-gesa.”
“Kau belum mengatakan, apa maksud
kedatanganmu?” sahut Wiraprana.
Kuda Sempana menarik alisnya.
Ditatapnya wajah Wiraprana dengan tajamnya. Sesaat kemudian terdengar ia
menjawab, “Jangan memperbodoh diri Wiraprana. Aku datang untuk menjemput bakal
istriku.”
Terasa dada Wiraprana itu berdesir. Ia
sudah menduga apa yang akan dilakukan oleh Kuda Sempana itu. Namun ketika ia
mendengar sendiri jawaban itu, maka mau tidak mau ia menjadi berdebar-debar.
Betapapun ia mencoba menenangkan diri sendiri, namun sebenarnyalah ia
mengetahui dengan pasti, bahwa ia tidak akan mampu mencegahnya seandainya Kuda
Sempana kemudian melakukan kekerasan. Kuda Sempana kali ini sudah pasti tidak
akan mengulangi kesalahan yang pernah dilakukannya di tepian sungai beberapa
bulan yang lalu. Karena itu maka tanpa disengajanya, Wiraprana melemparkan
pandangan matanya berkeliling. Dilihatnya beberapa orang cantrik memandangnya
dengan tegang, namun ada di antara mereka yang berdiri saja dengan wajah yang
kosong.
Wiraprana terkejut ketika Kuda Sempana
membentak, “Carilah di antara mereka, siapakah yang akan berani menghalangi
Kuda Sempana.”
Wiraprana menggigit bibirnya. Kuda
Sempana benar-benar menyadari keunggulannya. Dan tiba-tiba Wiraprana itu
menyesal, kenapa Mahisa Agni pergi sudah sekian lamanya masih juga belum
kembali? Apakah ada sesuatu yang terjadi di sepanjang perjalanannya? Bahkan
Wiraprana itu kemudian seakan-akan menyalahkan Mahisa Agni. Seakan-akan Mahisa
Agni itulah yang mempunyai keharusan untuk menjaga adik angkatnya. Dan
kepergiannya yang terlalu lama itu merupakan suatu kelengahan. Kini ternyata
Kuda Sempana itu benar datang. Apalagi ketika kemudian terdengar Kuda Sempana
itu berkata, “Jangan mengharap Mahisa Agni akan membantu, Wiraprana. Anak itu
masih berada di Tumapel.”
Wiraprana menggeram. “Apa pula kerja
Mahisa Agni itu di Tumapel?” desah Wiraprana di dalam hatinya, “ternyata Mahisa
Agni lebih mementingkan kesenangannya sendiri daripada melindungi adik
angkatnya itu.”
Meskipun demikian, Wiraprana tidak akan
dapat tinggal berdiam diri. Di sekitarnya berdiri beberapa orang cantrik.
Apapun yang akan terjadi, maka Ken Dedes itu harus dipertahankan mati-matian.
Ia akan berjuang mati-matian, dan para cantrik itu pasti akan membantunya.
Karena itu maka Wiraprana itu pun menjawab, “ Kuda Sempana. Rumah ini adalah
rumah Empu Purwa yang dikuasakan kepadaku selama Empu Purwa dan Mahisa Agni
tidak ada di rumahnya. Hampir setiap hari aku datang kemari. Karena itu, jangan
mencoba melampaui hak yang ada padaku itu. Dengan baik aku akan mencoba
mempersilakanmu pergi meninggalkan halaman ini.”
Kuda Sempana itu tertawa untuk
melepaskan kejengkelannya. Kenapa Wiraprana itu tidak lebih baik bersembunyi
saja, atau melarikan diri? Maka katanya, “Wiraprana, apakah kau sekarang mampu
memecah langit, sehingga kau berani berdiri tegak di hadapan Kuda Sempana?”
Betapapun juga, namun Wiraprana
tersinggung mendengar kata-kata itu. Maka dengan marahnya ia menjawab, “Kuda
Sempana, jangan terlalu sombong! Jangan kau sangka bahwa kau akan mampu
menundukkan seluruh isi jagat. Jika setiap usahamu yang kasar itu kau teruskan,
maka aku pasti akan berusaha untuk mencegahnya.”
Sekali lagi Kuda Sempana tertawa
terbahak-bahak untuk melepaskan perasaan yang menghimpit dadanya. Kemudian
katanya lantang, “Sudah aku katakan, waktuku amat sempit. Minggir, atau aku
paksa kau pergi? Bahkan lebih baik bagimu untuk memanggil Ken Dedes dan
antarkan gadis itu kepadaku.”
“Gila!” geram Wiraprana dengan
marahnya. Tetapi bagaimanapun juga ia menyadari keadaannya. Karena itu, ia
masih saja berdiri tegak di tempatnya.
“Jangan bergeser dari tempatmu,
Wiraprana. Aku akan masuk dan membawa Ken Dedes pulang. Sampaikan kepada Empu
Purwa bahwa dengan menyesal aku tidak dapat datang dalam keadaan yang lebih
baik dari sekarang, apabila ia tidak ada di rumah saat ini.”
Wiraprana belum beranjak dari
tempatnya. Namun ia berkata, “Empu Purwa tidak ada di padepokan. Segala
kekuasaan ada di tanganku.”
“Kalau begitu, berikan gadis itu
sekarang!”
“Tidak.!
“Jangan keras kepala! Aku bisa
memaksamu.”
“Tak ada gunanya.”
“Aku bisa menyingkirkanmu. Tegasnya aku
bisa membunuhmu.”
Sekali lagi Wiraprana menebarkan
pandangannya berkeliling. Para cantrik yang setia kepada Empu Purwa itu sudah
tentu tidak dapat membiarkan hal itu terjadi. Karena itu, tanpa berjanji mereka
melangkah beberapa langkah maju.
“Kau lihat?” geram Wiraprana.
“Huh. Barisan kelinci yang malang.
Mereka akan menyesal atas kesombongan mereka. Juga kau akan menyesal. Sekali
lagi aku minta, bahwa Ken Dedes kemari, atau aku akan mengambilnya.
“Pergi!” bentak Wiraprana dengan
marahnya, “Pergi, atau kami memaksa pergi?”
Kuda Sempana tidak menghiraukannya.
Dengan tenangnya ia melangkah maju. Selangkah ia menghindari Wiraprana untuk
terus langsung naik ke pendapa. Namun perbuatannya itu benar-benar telah
membakar hati Wiraprana. Ia merasa seakan-akan dianggap sebagai tidak ada.
Karena itu, alangkah sakit hatinya. Betapapun ia menyadari keadaannya, namun ia
berbesar hati ketika melihat beberapa orang cantrik pun segera melangkah maju
untuk mencegah perbuatan yang gila itu. Karena itu Wiraprana pun melangkah satu
langkah ke samping, langsung menghadang langkah Kuda Sempana sambil berteriak,
“Jangan gila!”
Kuda Sempana sama sekali tidak
memperhatikannya. Ia melangkah terus sehingga dengan demikian, Wiraprana itu
dilanggarnya. Dengan pundaknya ia mendesak dada Wiraprana yang gagah itu, namun
sebenarnya Kuda Sempana kini sudah menjadi semakin garang, sehingga Wiraprana
itu terdorong beberapa langkah surut.
Wiraprana terkejut bukan buatan
mengalami dorongan tenaga Kuda Sempana yang luar biasa itu. Untunglah bahwa ia
tidak terbanting jatuh. Meskipun demikian, Wiraprana terpaksa mengerahkan
tenaganya untuk menjaga keseimbangannya.
Tetapi, meskipun ia telah merasakan
dorongan tenaga Kuda Sempana yang tampaknya masih seenaknya saja itu, serta
dengan demikian dapat mengira-irakan kekuatannya, namun menjadi kewajibannya
untuk mencoba mencegah perbuatan gila itu, apapun akibatnya. Karena itu maka
Wiraprana menjadi mata gelap karenanya. Ia sudah tidak lagi sempat
memperhitungkan apakah kira-kira yang akan terjadi atasnya.
Maka, dengan serta-merta Wiraprana itu
menangkap lengan Kuda Sempana, menariknya dan kemudian dengan sekuat tenaganya,
Wiraprana itu mengayunkan tinjunya tepat mengarah ke wajah Kuda Sempana.
Namun, Kuda Sempana kini telati memiliki
ketangkasan jauh lebih maju dari beberapa bulan yang lampau. Karena itu, ketika
ia melihat tangan Wiraprana terayun dengan derasnya ke wajahnya, maka segera ia
menarik kepalanya itu beberapa jengkal ke belakang sambil memiringkan
pundaknya. Namun gerakan yang sederhana itu telah melepaskannya dari serangan
Wiraprana.
Wiraprana yang mengayunkan tangannya
dengan sekuat tenaganya, serta ternyata tangannya tak menyentuh sesuatu itu,
seakan-akan terseret oleh kekuatannya sendiri. Beberapa langkah ia terdorong ke
samping. Namun tak disangka-sangkanya, bahwa pada saat itu, Kuda Sempana
memukulnya pada punggungnya.
Wiraprana yang sedang kehilangan
keseimbangannya, benar-benar tak mampu lagi menolong dirinya. Dengan tanpa
dapat berbuat sesuatu ia terbanting di tanah. Bulat-bulat ia terjerembab.
Sedang wajahnya yang merah membara karena kemarahannya itu menyentuh tanah.
Para cantrik yang melihat peristiwa itu
terkejut bukan main. Namun pukulan Kuda Sempana itu seolah-olah menjadi isyarat
bagi para cantrik itu untuk bangun dari tidur mereka. Setelah mereka
menyaksikan semuanya yang terjadi dengan mulut ternganga, maka tiba-tiba mereka
merasa bahwa mereka pun berkewajiban untuk mencegah perbuatan Kuda Sempana yang
gila itu. Maka dengan serta-merta mereka pun berloncatan maju dan hampir
bersama pula mereka menyerang Kuda Sempana. Tetapi Kuda Sempana telah
memperhitungkan peristiwa-peristiwa yang mungkin terjadi. Demikian ia melihat
para cantrik itu menyerangnya, maka segera ia meloncat menyongsong mereka.
Dengan satu gerakan yang sederhana, maka seorang cantrik telah terpelanting
jatuh menimpa tangga pendapa. Terdengar cantrik itu mengaduh. Namun sesaat
kemudian dengan ter-tatih-tatih ia berusaha untuk bangun kembali.
Pada saat itu ia melihat Wiraprana pun
telah bangun pula. Tampaklah wajahnya yang merah padam. Jantungnya serasa telah
menyala mendidihkan darahnya.. Terdengar giginya gemeretak dan tangannya
menjadi gemetar. Karena itu dengan sepenuh tenaga, segera ia melepaskan kembali
sebuah serangan mengarah ke dada Kuda Sempana.
Kuda Sempana yang melayani
serangan-serangan para cantrik, melihat serangan Wiraprana yang dilontarkan
dengan sepenuh tenaga itu. Namun Kuda Sempana itu menarik alisnya sambil
tertawa pendek.
“Apakah selama ini kau masih saja
tertidur Wiraprana? Serangan-seranganmu datang seperti serangan seekor babi
hutan. Keras, namun sama sekali tak berarti. Dengan satu gerakan yang
sederhana, seranganmu telah dapat dihindari.”
Tetapi Wiraprana telah melontarkan
diri. Karena itu ia tidak dapat menarik serangannya. Dan sebenarnyalah dengan
menarik satu kakinya ke samping, memutar tubuhnya setengah lingkaran, serangan
Wiraprana itu telah dapat dihindari. Sekali lagi Kuda Sempana mengayunkan
tangannya ke arah punggung Wiraprana, dan sekali lagi Wiraprana yang malang itu
terdorong dengan kerasnya, dan jatuh terjerembab.
Kembali terdengar suara tertawa Kuda
Sempana. Kini suaranya menjadi semakin keras. Serangan para cantrik yang datang
bertubi-tubi itu, dengan mudahnya dapat dihindarinya satu demi satu. Bahkan
beberapa orang cantrik telah terlempar jatuh. Meskipun kemudian mereka berusaha
untuk berdiri tetapi mereka telah menjadi semakin jera. Kini mereka menyerang
dengan ragu-ragu. Meskipun demikian, satu kesadaran telah mengikat mereka dalam
perkelahian itu. Mencegah perbuatan Kuda Sempana.
Wiraprana yang terjerembab itu pun
kemudian bangun kembali. Kemarahannya menjadi semakin menggelegak di dalam
dadanya. Matanya seakan-akan menjadi menyala, dan mulutnya terkatup rapat.
Dengan cermat ia memandang Kuda Sempana seperti hendak ditelannya. Dan
kemarahannya menjadi semakin membakar ketika ia melihat Kuda Sempana itu dengan
tenangnya berkelahi melawan beberapa orang cantrik sambil tertawa. Katanya,
“Aku masih mencoba berbuat dengan sebaik-baiknya. Tetapi waktuku tidak banyak.
Karena itu sebaiknya kalian menghentikan perlawanan kalian. Ambillah Ken Dedes
dan serahkan kepadaku. Sebab perlawanan kalian ini pun tak akan berarti.”
“Tulip mulutmu!” bentak Wiraprana.
“Jangan membuat aku semakin marah,”
sahut Kuda Sempana.
Tetapi Wiraprana tidak memedulikannya
lagi. Kembali ia mencoba menyerang Kuda Sempana. Serangan Wiraprana itu telah
membangkitkan keberanian para cantrik itu kembali. Karena itu, maka
bersama-sama mereka menyerang Kuda Sempana itu pula
Kuda Sempana kini sudah tidak sabar
lagi. Ia pun takut, kalau Mahisa Agni akan segera datang, meskipun menurut
perhitungannya masih agak jauh. Karena itu, maka segera ia ingin mengakhiri
pertempuran.
Ketika serangan Wiraprana datang
kembali, maka Kuda Sempana sama sekali tidak berusaha untuk menghindarinya.
Dengan sebagian besar tenaganya, ia melawan serangan pula, sehingga segera
terjadi benturan di antara mereka. Tetapi sebenarnyalah bahwa benturan itu sama
sekali tidak seimbang. Wiraprana segera terlempar beberapa langkah dan kemudian
kembali ia jatuh terbanting di tanah.
Yang terdengar adalah suara Kuda
Sempana tertawa dan berkata, “Sudahlah Wiraprana. Tak akan ada gunanya
melakukan perlawanan. Sekali lagi aku peringatkan, jangan membuat aku menjadi
semakin marah.”
Tetapi belum lagi Kuda Sempana selesai,
Wiraprana yang terguling itu telah berusaha berdiri. Sementara itu para cantrik
telah berebutan menyerangnya..
Kuda Sempana kini telah benar-benar
menjadi marah. Karena itu, maka segera ia membalas setiap serangan para
cantrik. Sehingga dengan demikian, maka para cantrik yang hanya pandai mengatur
padepokan dan meladeni upacara-upacara keagamaan itu menjadi kalang kabut. Satu
demi satu, bahkan kadang-kadang dua tiga sekaligus, yang datang menyerang
bersama-sama, berbareng terlempar jauh.
Namun sementara itu Wiraprana telah
berdiri. Dengan marahnya ia menggeram, dan dengan membabi buta ia menyerang
lawannya sejadi-jadinya. Namun Kuda Sempana itu pun menjadi marah pula Ketika
Wiraprana datang menyerangnya, maka selangkah ia meloncat ke samping sehingga
serangan Wiraprana itu tak menyentuhnya. Tetapi dalam pada itu, maka serangan
Kuda Sempana itu pun segera mengalir seperti bendungan pecah. Sekali tangan
Kuda Sempana memukul lambung Wiraprana sehingga anak muda yang tegap tinggi itu
terdorong ke samping, namun sebelum Wiraprana berhasil memperbaiki
keseimbangannya, tiba-tiba Kuda Sempana yang marah itu meloncat maju. Sebuah
pukulan yang keras mengenai dagu Wiraprana. Ketika wajahnya itu mengangkat,
maka sekali lagi tangan Kuda Sempana terayun deras sekali. Kali ini ke perut
lawannya.
Terdengar sebuah keluhan tertahan. Dan
ketika Kuda Sempana melangkah selangkah mundur, maka tubuh Wiraprana itu pun
kemudian jatuh terkulai di tanah.
Kuda Sempana menarik nafas panjang.
Dengan mata yang merah menyala ia memandang wajah-wajah yang berdiri di
sekitarnya. Para cantrik yang melihat peristiwa itu menjadi ngeri karenanya
“Siapa lagi?” desis Kuda Sempana.
Tak seorang pun yang berani beranjak
dari tempatnya.
“Kalau tak ada yang mau mencoba lagi,
jangan halangi aku mengambil Ken Dedes. Di mana ia sekarang?”
Para cantrik itu pun menjadi gelisah.
Namun tak seorang pun menjawab. Mereka terpaku seperti tonggak. Berdiri saja
dengan mata tak berkedip.
“Hem,” geram Wiraprana, “kalau tak ada
di antara kalian yang mau menunjukkan, biarlah aku cari sendiri.”
—–
Ketika wajah Wiraprana terangkat, maka sekali lagi tangan Kuda Sempana terayun
keras sekali. Kali ini ke perut lawannya.
—–
Tetapi para cantrik itu tak dapat
membiarkan Kuda Sempana mengambil Ken Dedes. Karena itu tanpa mereka sengaja,
mereka berteriak, “Jangan!”
Mata Kuda Sempana menjadi semakin
menyala. Ditatapnya wajah para cantrik itu sambil berteriak, “Siapa yang akan
menghalangi?”
Kembali para cantrik itu terdiam. Dan
kembali Kuda Sempana melangkah maju. Namun langkahnya itu terhenti ketika para
cantrik pun bergerak maju.
“Apakah yang akan kalian lakukan?”
bentak Kuda Sempana.
Para cantrik itu terdiam.
Kuda Sempana yang melihat tingkah laku
para cantrik itu menjadi sangat marah. Dengan serta-merta ia meloncat menyerbu.
Setiap kali tangan dan kakinya bergerak, setiap kali seorang cantrik
terpelanting jatuh sambil mengeluh pendek. Tubuh-tubuh yang terbanting itu
merasa, seakan-akan segenap tulang belulangnya menjadi remuk. Dan karena itulah
maka mereka tidak lagi sempat untuk berdiri, ketika mereka melihat Kuda Sempana
meloncat dan berlari memasuki pringgitan lewat pendapa rumah Empu Purwa itu.
Yang terdengar adalah suara Wiraprana
terbata-bata, “Jangan, jangan. Namun tubuhnya terasa sangat lemahnya. Tulang-tulang
iganya seperti lepas terpecah-pecah. Sekali ia mencoba bergerak, namun perasaan
nyeri menyengat seluruh tubuhnya.
Karena itu, maka kini tak seorang pun
yang dapat menahan Kuda Sempana. Ia berlari saja masuk ke dalam rumah.
Namun rumah itu sedemikian sunyinya.
Sekali-kali ia mencoba menengok
bilik-bilik yang ada di dalam rumah itu. Sentong tengah, sentong kiri dan
kanan, namun tak dijumpai seorang pun. Dengan gelisah ia meloncat dari satu
ruangan ke ruangan yang lain. Namun ruangan-ruangan itu telah kosong.
Kini dengan geramnya Kuda Sempana
meloncat ke gandok sebelah kiri. Namun gandok ini pun ditemuinya kosong. Dan
karenanya Kuda Sempana segera berlari ke gandok sebelah kanan. Diloncatinya
setiap pintu, dan dijenguknya setiap ruangan.
“Gila!” desahnya. Dan Kuda Sempanalah
yang sebenarnya hampir gila. Sekali lagi ia berlari- lari di dalam rumah itu.
Seluruh ruangan telah dimasukinya dan hampir seluruh sudut-sudutnya telah
dilihatnya. Namun Ken Dedes tidak ditemukannya.
Ketika sekali ia meloncati pintu belakang,
dan dilihatnya seorang perempuan yang bersembunyi di balik sebuah tumpukan
batu, dengan serta-merta Kuda Sempana meloncat menghampiri. Namun ternyata
perempuan itu adalah seorang yang sedang ketakutan.
“Gila!” umpatnya sekali lagi.
“Di mana Ken Dedes?” bentaknya.
Endang yang ketakutan itu menjadi
semakin takut. Tiba-tiba ia terduduk lemas karena kakinya yang gemetar.
“Di mana Ken Dedes?” Kuda Sempana
berteriak.
Endang itu menggeleng lemah. Dan
tubuhnya menggigil ketika tangan Kuda Sempana memegang bahunya kuat-kuat sambil
mengguncang-guncang tubuhnya.
“Di mana Ken Dedes? Cepat!”
“Aku tidak tahu,” jawab endang itu
tergagap.
“Bohong. Ayo, tunjukkan di mana Ken
Dedes.
Endang itu menjadi semakin takut.
Meskipun bibirnya bergerak-gerak namun tak sepatah kata pun yang dapat
diucapkan, sehingga Kuda Sempana menjadi semakin marah. Tetapi ketika sekali
lagi ia mengguncang tubuh endang yang ketakutan itu, maka ia mengumpat,
“Setan!” Dibiarkannya endang yang ketakutan itu terbaring pingsan.
Kini Kuda Sempana tidak mencari Ken
Dedes di dalam rumah. Cepat ia berlari ke dapur. Di sekitar dapur itu
dilihatnya beberapa bilik tempat para endang. Karena itu, maka dengan marahnya
satu demi satu bilik itu dimasukinya.
Ketika Kuda Sempana sampai di bilik
yang paling ujung, bilik seorang emban tua, maka dengan serta-merta ditariknya
pintu bilik yang masih tertutup itu. Demikian pintu itu terbuka, maka alangkah
terkejutnya. Kuda Sempana itu tegak di muka pintu dengan wajah yang tegang.
Sedang di dalam bilik itu terdengar sebuah jerit pendek.
“Hem,” geram Kuda Sempana, “akhirnya
kau kutemukan juga.”
Ken Dedes yang berada di dalam bilik
itu bersama pemomongnya yang telah mencoba menyembunyikannya menjadi terkejut
pula. Dengan gemetar ia memandang Kuda Sempana yang menakutkan itu. Dengan
demikian, maka Ken Dedes dapat membayangkan bahwa Wiraprana dan para cantrik
tidak berhasil mencegah orang yang hampir menjadi gila ini.
Dengan demikian, maka ketakutan yang
amat sangat menjalar di dada Ken Dedes. Apa yang pernah terjadi, ternyata kini
berulang kembali.
“Ken Dedes,” berkata kuda Sempana
dengan suara parau, “maafkan aku, kalau aku memilih cara ini untuk mengambilmu.
Kalau kau tidak keras hati, maka pasti aku akan menempuh jalan lain. Tetapi
jalan lain itu kini telah tertutup sama sekali. Karena itu, maka jalan
satu-satunya adalah cara ini.”
Ken Dedes memandang Kuda Sempana dengan
muaknya. Betapapun ia menjadi takut, namun ia tidak dapat membiarkan dirinya
dijamah oleh iblis itu. Karena itu maka katanya, “Kuda Sempana, itu sama sekali
bukan cara seorang jantan.”
Kuda Sempana terkejut, katanya, “Aku
telah berhadapan dengan Wiraprana. Laki-laki yang akan menjadi suamimu itu. Aku
telah bertempur melawannya. Bukan aku yang tidak bersikap jantan, namun
Wirapranalah yang berlaku demikian. Sebab ia tidak bertempur seorang melawan
seorang. Ia telah bertempur bersama-sama para cantrik melawan aku. Apakah
dengan demikian aku kurang bersikap jantan?”
Ken Dedes mengerutkan keningnya.
Wiraprana telah dikalahkan. Tetapi bagaimanakah nasibnya? Apakah anak muda itu
telah terbunuh?
Berbagai perasaan bergolak di dalam
dada Ken Dedes. Takut, cemas dan pertanyaan- pertanyaan yang timbul tentang
nasib Wiraprana. Namun dengan demikian, tiba-tiba gadis itu mengangkat
wajahnya. Ketika ia tidak melihat lagi jalan untuk melepaskan diri, maka dengan
lantangnya ia berkata, “Kuda Sempana. Jangan mencoba menyentuh kulitku!”
Wajah Kuda Sempana yang merah padam itu
kini menjadi semakin menyala. Dengan geramnya ia berkata, “Ken Dedes, aku telah
mengalahkan setiap laki-laki yang ada di padepokan ini. Apakah yang akan dapat
kau lakukan?”
Ken Dedes itu kini justru tidak menjadi
gemetar lagi. Dengan dada tengadah ia berkata, “Kuda Sempana, kau mungkin dapat
mengalahkan sedap orang yang menghalang-halangi maksudmu. Namun kau tak akan
dapat mengalahkan aku sendiri. Sebab bagiku, lebih baik aku mati daripada
menjadi istri pelarian.”
“Jangan gila!” sahut Kuda Sempana, “kau
tak akan mati. Mungkin kau belum merasakan keindahan rumah tangga kita kelak.
Tetapi jangan kau coba membunuh dirimu sendiri.”
“Apa pedulimu? Dan ternyata kau tidak
akan mengalahkan maut itu.”
Kuda Sempana itu terdiam sesaat.
Dilihatnya di belakang Ken Dedes berdiri seorang emban tua dengan mata yang
memandangnya dengan penuh kebencian. Namun Kuda Sempana sama sekali tidak
memperhatikannya. Baru ketika emban itu berkata, “Kuda Sempana, adakah Angger
telah berpikir masak-masak tentang apa yang Angger lakukan?”
“Diam!” bentak Kuda Sempana, “Apa kau
sangka, kau cukup bernilai untuk memberi aku nasihat?”
“Aku tidak memberi nasihat, Ngger.
Tetapi sebagai seorang tua aku heran melihat tingkah Angger. Bukankah Angger
seorang yang cukup jantan?”
l
“Sudah aku katakan. Aku telah bertempur
melawan lebih dari tujuh orang laki-laki di halaman?”
“Tetapi apakah Angger tidak mendengar,
bahwa di padepokan ini akan dilangsungkan sayembara tanding?”
“Gila! Apakah kau mengigau?”
“Tidak. Sesudah Nini dipertunangkan
dengan Angger Wiraprana, masih saja banyak sekali lamaran-lamaran yang datang.
Karena itu, maka segera akan diadakan sayembara tanding.”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya.
Tetapi tiba-tiba ia berteriak, “Bohong! Jangan banyak bicara!”
Kemudian kepada Ken Dedes ia berkata,
“Jangan mencoba melawan!”
Tetapi Kuda Sempana menjadi sangat
terkejut. Demikian ia melangkah maju maka tiba-tiba dilihatnya sebuah patrem di
tangan emban itu. Dan dengan tidak disangka-sangka maka emban itu berkata,
“Jangan jamah momonganku!”
“Gila! Apa yang akan kau lakukan?”
Emban tua itu tidak menjawab. Tetapi
sekali lagi Kuda Sempana tidak menyangka, bahwa emban tua itu menarik kainnya,
dan disangkutkannya pada ikat pinggangnya. Kemudian hilanglah wajah yang suram.
Kini wajah emban itu menjadi tegang. Dengan patrern di tangan ia melangkah
maju. Katanya, “Angger Kuda Sempana. Kau telah mengalahkan setiap laki-laki di
padepokan ini. Namun kau belum mengalahkan aku.”
Ken Dedes sendiri menjadi terkejut
bukan buatan. Tidak disangkanya bahwa embannya itu sedemikian setianya
kepadanya. Sehingga karena itu, maka ia tertegun diam seperti patung.
Kuda Sempana terpaku diam di tempatnya.
Namun ketika ia menyadari keadaannya, maka ia terdengar tertawa terbahak-bahak
seperti akan meruntuhkan rumah itu.
Kuda Sempana itu menjadi marah
bereampur geli. Seakan-akan ia sedang menyaksikan sebuah pertunjukkan lawak
yang lucu, namun memuakkannya. Karena itu, maka untuk melepaskan
kejengkelannya, kemarahannya dan segala macam perasaan yang bereampur baur di
dalam dadanya, Kuda Sempana itu tertawa seperti orang kerasukan setan.
Ken Dedes yang masih terpaku karena
keheranannya melihat sikap embannya itu, kemudian menjadi tersadar pula akan
keadaannya. Di mukanya berdiri hantu yang sedang tertawa, seakan-akan mendapat
mangsa yang menyenangkan. Sedang apa yang dilakukan oleh embannya itu sama
sekali tak akan dapat menolongnya.
Tetapi ketika Kuda Sempana sedang
melepaskan benturan- benturan perasaan yang menghimpit dadanya, terdengar emban
itu berbisik lirih, “Nini. Biarlah aku mencoba mengikat anak muda ini meskipun
hanya sesaat. Dan cobalah mempergunakan waktu itu untuk melarikan diri ke luar
halaman.”
Ken Dedes mendengar bisikan itu. Tetapi
sejenak ia ragu-ragu. Apakah usaha itu berhasil? Namun segala usaha akan.
Ditempuhnya. Ia akan mencoba melakukan nasihat embannya itu. Tetapi apakah yang
akan terjadi dengan emban tua itu?”
Dalam pada itu Kuda Sempana telah
hampir berhenti tertawa. Matanya yang menyala itu memandang emban tua itu
dengan penuh nafsu, seakan-akan emban tua itu akan diremasnya sampai lumat.
“He, perempuan tua! Jangan membuat aku
bertambah marah. Dengan ujung jariku aku akan dapat membunuhmu. Dan kalau aku
menjadi bertambah-tambah marah, rumah ini akan aku bakar dan kalian yang telah
menentang kehendakku akan aku benamkan ke dalam api.”
“Itu akan menjadi lebih baik,” jawab
emban itu, “kematian kami akan menjadi sempurna.”
“Gila! Kau benar-benar gila!” teriak
Kuda Sempana. Namun kemudian ia mencoba untuk mengabaikan perempuan itu.
Katanya kepada Ken Dedes, “Ken Dedes ikut aku!”
Ken Dedes itu menjadi gemetar kembali.
Namun terdengar ia menjawab lantang, “Tidak!”
“Kalau tidak, aku akan memaksamu.
Menangkapmu dan membawamu lari dengan kudaku.”
Ken Dedes itu terbungkam. Alangkah
ngerinya. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Kuda Sempana itu berdiri di
ambang pintu bilik itu satu-satunya.
Kuda Sempana itu pun kemudian tidak bersabar
lagi. Sekali ia meloncat untuk menangkap Ken Dedes. Namun kembali anak muda
pelayan dalam Akuwu Tumapel itu terkejut bukan buatan. Demikian ia meloncat
maju, maka perempuan tua itu meloncat pula dengan lincahnya menghalanginya.
Sambil berdiri di muka Ken Dedes, emban itu berkata, “Sudah aku katakan. Selama
aku masih berdiri di sini, jangan jamah momonganku.”
Mata Kuda Sempana seperti akan meloncat
keluar melihat sikap emban tua itu. Bukan sekedar sikap seorang tua yang bunuh
diri. Tetapi kakinya miring, serta lututnya yang merendah sedikit, adalah sikap
yang meyakinkan. Karena itulah maka Kuda Sempana itu tertegun sejenak.
Ditatapnya perempuan tua itu dengan tajamnya. Dan kemudian terdengar ia
menggeram, “Jangan menghalangi aku! Sisa-sisa umurmu itu akan terempas habis
bersama kesombonganmu.”
Perempuan itu tidak menjawab. Namun
patremnya terangkat setinggi dada mengarah kepada lawannya.
Kuda Sempana menjadi semakin marah
karenanya. Dan perempuan itu masih juga menghalanginya.
Namun dalam pada itu, Kuda Sempana itu
tidak mengetahuinya, bahkan Ken Dedes pun tidak, bahwa perempuan yang berdiri
di hadapannya itu adalah ibu Mahisa Agni. Perempuan itu adalah bekas istri
seorang laki-laki yang mendambakan dirinya pada kekuatan-kekuatan kanuragan dan
kesaktian. Meskipun perempuan itu belum pernah berguru kepada siapa pun juga,
namun untuk menyenangkan hati suaminya, ia telah mencoba untuk mengikuti setiap
kesenangan dan kebiasaannya. Bahkan sebelum itu pun ia adalah seorang gadis
yang sedang dilanda oleh angan-angan tentang seorang laki-laki yang sakti, yang
merantau dari satu tempat ke tempat yang lain. Berjuang untuk menemukan buat
bekal hari depannya. Karena itulah maka hidupnya pun selalu diliputi oleh
angan-angan yang demikian. Sedikit demi sedikit ia mampu juga untuk menirukan
suaminya, dan bahkan mencoba untuk berbuat serupa. Meskipun setiap kali
suaminya menertawakannya, namun ia berbuat terus. Mula-mula hanyalah sebuah
permainan dalam senda gurau pengantin baru. Namun semakin lama, gerak-gerak itu
dipahami pula.
Tetapi bukan itulah yang telah menempa
perempuan itu. Sejak ia membuang diri, menjauhi pergaulan manusia karena
dosa-dosa yang mengejarnya, maka kemampuan-kemampuan yang tersimpan di dalam
tubuhnya itu sedikit demi sedikit terungkapkan. Sekali-kali ia mencoba juga
menolong perempuan-perempuan yang ketakutan dikejar-kejar oleh beberapa
perampok kecil di perjalanan. Sekali-kali ia mampu juga untuk melindungi
dirinya dari segenap bahaya. Waktu itu ia adalah seorang janda muda yang
kadang-kadang masih dapat menyalakan hati laki-laki. Dalam masa pembuangan diri
itulah, maka perempuan itu menemukan berbagai hal yang mematangkan lahir dan
batinnya.
Kini, setelah sekian lamanya,
kemampuan-kemampuan yang aneh bagi kebiasaan perempuan itu disimpannya,
tiba-tiba seperti bendungan yang pecah, maka terngangalah kesempatan untuk
menyalurkannya. Meskipun perempuan itu, sadar, sesadarnya, bahwa Kuda Sempana
itu bukan lawannya. Bahwa kekuatannya jasmaniahnya, telah susut. Bukan saja
karena umurnya, namun karena ia sama sekali tidak pernah mempergunakannya lagi
sejak ia tinggal di padepokan Empu Purwa.
Tetapi kini sebenarnya ia sama sekali
memang tidak akan mengalahkan Kuda Sempana, Ia hanya ingin memberi waktu kepada
Ken Dedes untuk melarikan dirinya keluar halaman dan bersembunyi di mana saja.
Meskipun kemudian dirinya sendiri menjadi korban karenanya, namun ia
benar-benar ingin menyelamatkan gadis yang menjadi momongannya itu.
Kuda Sempana yang marah itu, kini sudah
tidak dapat mengendalikan dirinya lagi. Karena itu segera ia berteriak,
“Minggir! Atau mampus kau perempuan sekarat!”
Tetapi Kuda Sempana itu menjadi kecewa.
Ternyata perempuan itu mampu meloncat menghindari serangannya. Bahkan kemudian
tangannya yang kecil berkeriput itu terjulur lurus ke lambungnya. Cepat Kuda
Sempana mengelakkan ujung patrem yang hampir saja menyengatnya sambil berdesis,
“Setan! Kau benar-benar ingin kuremukkan kepalamu.”
Namun perempuan tua itu tidak
memedulikannya. Sekali lagi ia bergeser maju sambil memutar patremnya. Dan
sekali lagi Kuda Sempana terpaksa bergeser mundur. Timbullah berbagai
pertanyaan di dalam dadanya, siapakah gerangan perempuan aneh ini? Setelah
sekali dua kali ia melihat geraknya, maka Kuda Sempana dapat meraba-raba bahwa
sebenarnya perempuan itu telah mengenal gula ilmu tata bela diri. Karena itu,
maka dengan mengumpat-umpat tak habis-habis ia terpaksa melayani.
Tetapi dengan demikian, Kuda Sempana
lupa, bahwa satu-satunya pintu bilik itu telah terbuka bagi Ken Dedes. Ketika
perkelahian itu berkisar dari tempatnya, maka pada suatu saat Kuda Sempana
berdiri bertentangan dengan pintu itu. Kesempatan itulah yang ditunggu-tunggu
oleh perempuan tua itu. Seperti orang yang kehilangan kesadaran perempuan itu
menyerang sejadi-jadinya. Ternyata tangannya yang kecil itu mampu juga
mempermainkan patrem dengan baiknya.
Dalam pada itu, maka ketika Kuda
Sempana menjadi agak lupa atas pintu itu, berkatalah perempuan itu, “Nini,
tinggalkan ruangan ini!”
“Gila!” teriak Kuda Sempana, “Jangan
kau coba!”
Ken Dedes yang terpaku melihat perkelahian
itu, seakan-akan tersadar dari tidurnya. Pintu itu kini tidak lagi dihantui
oleh bayangan Kuda Sempana. Karena itu, maka dengan serta-merta ia berlari
menghambur keluar;
“Ken Dedes!” teriak Kuda Sempana. Namun
Ken Dedes berlari terus.
Karena itulah maka perhatian Kuda
Sempana menjadi terpecah. Sebagian perhatiannya terikat kepada perkelahian itu,
sedang sebagian lagi mengikuti langkah Ken Dedes. Namun Kuda Sempana adalah
seorang anak muda yang perkasa. Karena itu segera ia mampu menemukan keseimbangan
pikirannya kembali. Perempuan yang menghalanginya itu harus disingkirkan, baru
ia akan berlari mengejar Ken Dedes.
Ternyata perempuan itu memang bukan
lawan Kuda Sempana. Ia hanya sekedar dapat memancing perhatian Kuda Sempana.
Karena itu, ketika Kuda Sempana itu menjadi marah, maka dengan sekali loncat ia
berhasil mendesak perempuan itu ke sudut. Kemudian dengan garangnya ia
menyerangnya dengan kakinya. Tetapi perempuan tua itu masih juga membela
dirinya untuk memberi kesempatan kepada Ken Dedes meninggalkan halaman itu.
Karena itu, maka ketika kaki Kuda Sempana terjulur ke arahnya, maka segera ia
menarik patremnya menyongsong setangan kaki itu.
Tetapi Kuda Sempana tidak membiarkan
kakinya terluka. Cepat ia menarik serangannya, dan dengan cepatnya ia berputar
di atas satu kakinya, sedang kaki yang lain segera menyambar tangan perempuan
tua yang memegang patrem itu. Namun Kuda Sempana mengumpat. Tangan yang telah
kurus itu ternyata masih juga cekatan, sehingga kaki Kuda Sempana tak
menyentuhnya.
Demikianlah Kuda Sempana menjadi
semakin marah karenanya. Tetapi di samping itu, ia menjadi gelisah pula atas
gadis yang melarikan diri. Tetapi kegelisahannya itu telah mendorongnya untuk
lebih mempercepat penyelesaian atas perempuan tua itu.
Ken Dedes, yang telah berhasil keluar
dari bilik itu, segera berlari ke halaman depan. Maksudnya akan berlari keluar
halaman dan bersembunyi di rumah di sekitarnya. Tetapi ketika ia turun dari
pendapa, Ken Dedes itu terkejut bukan main. Dilihatnya beberapa orang cantrik
terbaring di tanah, dan beberapa orang yang lain mencoba merangkak bangkit.
Tetapi Ken Dedes itu lebih terkejut lagi ketika dilihatnya di antara mereka
Wiraprana pun yang dengan susah payah berusaha untuk bangkit.,
“Kakang!” teriak Ken Dedes
Wiraprana menggigit bibirnya. Dengan
suram ia memandang gadis itu. Desahnya, “Di manakah Kuda Sempana?”
“Di belakang,” sahut Ken Dedes yang
dengan serta-merta bersimpuh di sampingnya.
“Kau dapat lepas dari tangannya?”
“Ya. Bibi emban sedang berkelahi
melawannya?”
“Emban yang mana?” bertanya Wiraprana
heran.
“Emban tua. Pemomongku.”
Wiraprana tidak mengerti akan
keterangan itu. Emban tua, pemomong Ken Dedes. Aneh. Tetapi ia tidak sempat
untuk bertanya terlalu banyak. Wiraprana itu pun kemudian berpikir tentang
nasib Ken Dedes. Karena itu katanya, “Lalu apakah yang akan kau lakukan
sekarang.”
“Bersembunyi selagi masih ada
kesempatan.”
“Baik. Bersembunyilah di rumah
tetangga. Apakah Kuda Sempana akan memasukinya satu demi satu?”
“Ya.”
“Nah. Pergilah.”
Tetapi Ken Dedes tidak segera berdiri,
sehingga Wiraprana itu menegurnya, “Pergilah selagi ada kemungkinan.
“Lalu bagaimanakah dengan kau, Kakang?”
“Biarkan aku. Aku tidak apa-apa.”
“Tetapi bagaimanakah nanti kalau Kuda
Sempana itu kembali kemari?”
“Biarkan aku. Pergilah. Pergilah secepatnya
sebelum Kuda Sempana datang.”
Ken Dedes pun berdiri. Namun ia masih
ragu-ragu karenanya. Ia tidak sampai hati meninggalkan Wiraprana yang wajahnya
merah biru sedang darah mengalir dari hidungnya.
Wajah yang demikian itu pulalah yang
pernah dilihatnya beberapa waktu yang lalu di bendungan. Dan ternyata kini
berulang kembali.
“Ken Dedes pergilah cepat. Cepat!”
Ken Dedes itu pun segera melangkah,
namun ia sudah terlambat. Dari balik pintu pringgitan muncullah Kuda Sempana
berlari-lari.
Ternyata dengan cepat Kuda Sempana
telah berhasil mendorong emban tua itu jatuh terbanting. Betapa berat tangan
Kuda Sempana itu, sehingga emban yang sudah tua itu tidak mampu untuk segera
bangkit kembali. Dengan nafas terengah-engah perempuan itu mencoba untuk
bangun, namun tubuhnya terasa seperti tidak bertulang lagi. Meskipun demikian,
selagi Kuda Sempana masih tampak di matanya, segera ia melemparkan patremnya,
ke arah anak muda itu. Tetapi sama sekali tidak berarti. Sebab dengan cepatnya
Kuda Sempana berhasil menghindarinya.
Oleh kemarahan Kuda Sempana yang telah
memuncak sampai ke ubun-ubunnya, maka anak muda itu bermaksud membunuh saja
emban yang telah mencoba mengganggunya, tetapi segera ia teringat kepada Ken
Dedes. Dengan demikian ia menggeram, “He perempuan celaka. Biarlah kau hidup
sampai aku berhasil menangkap Ken Dedes.”
Kuda Sempana itu segera meloncat
berlari, dan sampai di halaman ia menarik nafas lega. Ia masih melihat Ken
Dedes di situ.
Ken Dedes yang melihat kedatangan Kuda
Sempana itu kembali menjadi gemetar. Kin tak ada lagi yang dapat diharapkan
untuk melindungi dirinya. Karena itu, maka dalam kebingungan ia melangkah
terus. Berlari meninggalkan halaman rumahnya. Tetapi Kuda Sempana pun berlari
pula mengejarnya. Wiraprana yang masih belum dapat bergerak memandangnya dengan
penuh kecemasan. Sehingga karenanya tanpa sesadarnya ia berteriak, “Kuda
Sempana. Kau benar-benar telah kepanjingan setan. Kemarilah kalau kau jantan.”
“Mampuslah kau Wiraprana,” sahut Kuda
Sempana, “ambil berlari mengejar Ken Dedes.”
Demikian Ken Dedes meloncat keluar dari
pintu halamannya, dilihatnya beberapa anak muda berdiri di luar. Dengan
serta-merta ia berteriak, “Tolong! Tolonglah aku.”
Anak-anak muda itu saling berpandangan.
Kuda Sempana bukan orang yang dapat mereka lawan. Mereka tidak lebih dari
beberapa orang cantrik yang telah terbaring di halaman Empu Purwa itu. Namun
meskipun demikian anak-anak muda itu masih tetap berdiri tegak di tempatnya.
Sudah barang tentu mereka tak akan dapat membiarkan seorang gadis dari
lingkungannya mengalami nasib yang memedihkan.
Sesaat kemudian muncullah Kuda Sempana
dari pintu gerbang itu pula. Ketika ia melihat beberapa anak muda berdiri di
hadapannya, maka langkahnya tertegun. Dengan kemarahan yang menyala-nyala ia
berteriak, “Apakah yang akan kalian lakukan?”
Tak seorang pun dari anak-anak muda itu
yang menjawab. Mereka telah melihat apa yang terjadi di halaman. Tetapi mereka
pun tak sampai hati melepaskan Ken Dedes dibawanya. Karena itu mereka masih
saja berdiri tegak hampir berhimpitan. Sedang Ken Dedes yang gemetar berdiri di
belakang mereka.
Kuda Sempana yang marah itu menjadi
semakin marah. Ketika selangkah ia maju, maka anak-anak muda Panawijen itu pun
berdesakan mundur. Mereka tidak berani langsung menentang kekerasan yang
memancar dari mata Kuda Sempana Itu.
Alangkah kecewanya Ken Dedes melihat
kawan-kawannya yang ketakutan itu. Karena itu, maka ia tidak akan dapat
menggantungkan dirinya kepada mereka. Sebab ternyata pula, ketika Kuda Sempana
maju selangkah lagi, maka mereka pun telah berebut untuk menghindar.
Kuda Sempana yang marah itu pun
kemudian berteriak, “Pergi! Pergi. Biarkan aku berbuat menurut kehendakku.”
Anak-anak muda itu menjadi ragu-ragu.
Sekali lagi mereka saling berpandangan. Meskipun demikian, terpancarlah dari
wajah-wajah mereka, bahwa mereka sama sekali tidak ikhlas melihat peristiwa
itu. Tetapi mereka kurang keberanian untuk mencegahnya. Sebab mereka tahu,
siapakah Kuda Sempana itu.
Kuda Sempana itu pun kemudian tidak
bersabar lagi. Sekali lagi ia berteriak, “Pergi! Pergi, atau siapakah yang akan
mati dahulu di antara kalian? Beberapa orang telah mencoba mencegah kemauanku.
Sekarang kalian memperlambat pula. Karena itu, maka kemarahan yang bertumpuk
undung di dalam dadaku, akan aku tumpahkan kepada kalian. Siapa yang tidak
menuruti kemauanku meninggalkan tempat ini maka merelalah yang akan mati lebih
dahulu.”
Anak-anak muda itu menjadi semakin
cemas. Kuda Sempana benar-benar akan membunuh mereka yang mencoba menghalangi
kemauannya. Tetapi apakah Kuda Sempana itu akan dibiarkannya untuk membawa Ken
Dedes pergi.
Ken Dedes yang menggigil di belakang
mereka itu menjadi semakin takut. Anak-anak muda Panawijen ternyata kurang
memiliki keberanian. Karena itu ia berbisik dengan suara gemetar, “Tolonglah
aku, Tolonglah.”
Sesaat ketika anak-anak muda itu
mendengar suara Ken Dedes, mereka menjadi iba, dan seolah-olah mereka pun
segera akan melindunginya. Namun apabila terpandang oleh mereka itu mata Kuda
Sempana, maka kembali hati mereka keriput.
Kuda Sempana yang marah itu pun kemudian
berkata, “Aku akan melangkah langsung mengambil gadis itu. Mingggir,atau siapa
yang masih berdiri di hadapanku akan aku binasakan.”
Kuda Sempana tidak menunggu apapun
lagi. Selanglah ia maju, dan anak-anak muda itu pun mundur pula. Ketika Kuda
Sempana maju lagi, mereka pun mundur lagi selangkah. Dan ketika langkah Kuda
Sen paria menjadi semakin cepat, maka tiba-tiba mereka itu pun menyibak.
“Tolong, tolonglah aku!” jerit Ken
Dedes. Namun anak-anak muda itu telah menyibak, seakan-akan sengaja memberi jalan
kepada Kuda Sempana untuk langsung dapat menangkap Ken Dedes.
Ken Dedes menjadi bertambah ketakutan.
Terbayanglah peristiwa yang mengerikan akan menimpanya. Karena itu tanpa
malu-malu ia mengguncang-guncang tubuh seorang anak muda yang berdiri di dekatnya,
“Cegahlah, cegahlah. Aku tidak mau! Aku tidak mau!”
Hati anak muda itu pun terguncang pula.
Alangkah ibanya kepada gadis itu. Tetapi ia tidak mau mati. Karena itu ia
menjadi ragu-ragu.
Dalam pada itu Kuda Sempana melangkah
terus. Setiap langkah yang diayunkan, terasa seakan-akan sebuah tusukan sembilu
di dada Ken Dedes. Sekali lagi ia mencoba menjerit sambil mengguncang-guncang
tubuh anak muda yang berdiri di hadapannya, “Aku tidak mau! Aku tidak mau!”
Tetapi pemuda itu tidak berani menatap
nyala yang memancar dari mata Kuda Sempana. Karena itu, maka ia pun kemudian
bergeser mundur.
Pada saat yang demikian, pada saat Ken
Dedes menjadi berputus asa, serta pada saat anak-anak muda Panawijen kehilangan
akal, maka mereka dikejutkan oleh suara derap kuda yang menggema di padukuhan
itu. Suaranya gemeretak seperti suara guruh yang sahut menyahut berputaran.
Kuda Sempana terkejut mendengar derap
kuda itu. Sesaat langkahnya tertegun. Diangkatnya wajahnya dan dicobanya untuk
mengetahui, dari manakah arah suara itu.
Terasa sesuatu bergetar di dada anak
muda itu. Sekilas tebersit gambaran anak muda yang bernama Mahisa Agni. “Tidak
mungkin,” katanya di dalam hati, “anak itu berjalan kaki. Kalau ia tergesa-gesa
pulang, secepatnya tengah malam nanti ia akan sampai.” Kemudian katanya pula di
dalam hatinya itu, “Seandainya anak muda itu datang, maka aku sekarang tidak
akan gentar lagi untuk menghadapnya.”
Meskipun demikian Kuda Sempana itu
menjadi gelisah pula. Ketika tampak di matanya anak-anak muda Panawijen itu pun
menjadi terkejut dan memerhatikan suara derap kuda itu, maka terdengar ia
berteriak, “Minggir, cepat!”
Namun sebelum Kuda Sempana meloncat
menangkap Ken Dedes, maka terasa sesuatu berdesir di dalam hatinya. Dari
tikungan dilihatnya seekor kuda meluncur secepat anak panah yang lepas dari
busurnya. Debu putih mengepul berhamburan di belakang kaki-kaki kuda itu. Dan
ketika Kuda Sempana melihat penunggangnya, jantung serasa berhenti berdenyut.
“Mahisa,” Agni desisnya.
Anak muda itu adalah Mahisa Agni.
Hatinya tersirap ketika ia melihat beberapa orang berkerumun di muka gerbang
halaman rumah gurunya. Kudanya yang berlari kencang itu dicambuknya sehingga
seakan-akan kuda itu terbang.
Waktu yang diperlukan tidak terlalu
lama. Segera ia sampai di antara anak-anak muda yang berkerumun itu. Dengan
sekuat tenaga ditariknya kekang kudanya, sehingga kuda itu meringkik sambil
tegak di atas kedua kaki belakangnya. Demikian kuda itu menjejakkan kaki
depannya, demikian Mahisa Agni meloncat turun.
Yang mula-mula terdengar adalah suara
Ken Dedes menjerit, “Kakang. Kakang Mahisa Agni!”
Sebelum Kuda Sempana sempat
menangkapnya, gadis itu meloncat berlari ke arah Mahisa Agni. Gadis yang
ketakutan dan hampir berputus asa itu, dengan serta-merta memeluk tubuh Mahisa
Agni sambil memuntahkan segenap himpitan perasaan di dalam dadanya. Ken Dedes
itu menangis seperti kanak-kanak.
Ketika tersentuh olehnya tubuh Mahisa
Agni, yang dianggapnya sebagai kakak kandungnya itu, maka terasa seakan-akan ia
telah menemukan perlindungan. Sebagai anak ayam yang bersembunyi dibalik sayap
induk ketika seekor elang mengintainya, demikianlah apa yang dilakukan oleh Ken
Dedes itu.
—–
Sebelum Kuda Sempana menangkapnya, gadis itu meloncat berlari ke arah Mahisa
Agni. Gadis yang ketakutan dan hampir berputus asa itu,dengan serta-merta
memeluk tubuh Mahisa Agni …..
—–
Kuda Sempana menyaksikan perbuatan itu
dengan gigi yang gemeretak. Matanya yang menyala karena kemarahan yang membakar
dadanya. seakan-akan hendak meloncat dari pelupuknya. Sehingga kemudian
terdengar ia menggeram parau, “Ken Dedes. Ikutlah aku!”
Ken Dedes tidak mendengar kata-kata
itu. Ia baru tenggelam ke dalam tangisnya yang menyesakkan dadanya. Namun
Mahisa Agnilah yang mendengar kata-kata itu. Karena itu didorongnya Ken Dedes
perlahan-lahan ke samping sambil berkata, “Minggirlah, Ken Dedes, biarlah anak
muda itu aku layani.”
Ken Dedes mendengar kata-kata Mahisa
Agni itu sebagai suatu peringatan, bahwa di belakangnya bahaya masih selalu
mengintainya. Karena itu, maka segera dilepaskannya tangannya, dan bergeser
menepi.
Kini Mahisa Agni itu berdiri dengan
kokohnya menghadap ke arah Kuda Sempana yang telah bersiap pula. Dari
wajah2-wajah mereka, terbayang kemarahan yang telah memuncak.
Sesaat mereka hanya berdiri raja saling
berpandangan. Meskipun tak sepatah kata pun yang terloncat dari bibir mereka,
namun dari mata mereka telah memancar perasaan dendam, benci dan segala macam.
Suasana pun segera meningkat menjadi
semakin tegang. Seakan-akan tanah tempat mereka berpijak itu telah menyala.
Dalam keheningan yang membara itu
terdengar suara Mahisa Agni berat, “Apa yang telah kau lakukan di sini Kuda
Sempana?”
Kuda Sempana memandang Ken Dedes
sesaat, kemudian jawabnya, “Tak usah kau bertanya., kau sudah dapat
menebaknya.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya
perlahan-lahan. Katanya, “Hem. Masih juga kau ulangi niatmu yang gila itu?”
“Sebelum aku berhasil, maka aku tak
akan berhenti berusaha. Hanya orang-orang kerdil sajalah yang melupakan
cita-citanya.”
“Kuda Sempana. Untuk yang terakhir
kalinya aku memperingatkanmu. Urungkan niatmu. Kau akan dapat mencari gadis
yang tak kalah cantiknya di Tumapel.”
i
“Gila. Kau jangan mengigau Mahisa Agni.
Kau sangka nilai seorang gadis sama dengan nilai seekor ayam aduan? Yang dapat
dipilih di pasar-pasar atau di kalangan adu jago? Agni aku mau menilai gadis
yang aku kehendaki seperti aku menilai jiwaku sendiri.”
“Aku menghormati penilaian itu,” sahut
Mahisa Agni, “tetapi kau tidak berpijak atas nilai timbal balik. Kau menilai
dirimu dan nyawamu sendiri. Tetapi pernahkah kau bertanya kepadanya, kepada Ken
Dedes, bagaimana ia menilai dirimu?”
Kuda Sempana diam sesaat. Kemarahannya
kini menjadi semakin memuncak. Dan karena itulah maka matanya menjadi makin
merah membara.
Dihentak Kuda Sempana itu pun terbayang
kembali peristiwa beberapa waktu yang lampau di pinggir kali. Mahisa Agni itu
pula yang telah menggagalkan usahanya. Dan kini anak muda itu telah berdiri di
hadapannya pula dalam persoalan yang sama.
Tetapi beberapa waktu yang lampau Kuda
Sempana bukan Kuda Sempana yang sekarang. Kini ia telah menempa dirinya menjadi
seorang yang jarang dicari bandingnya. Kini di dalam dirinya telah tersimpan
kekuatan- kekuatan yang beberapa waktu yang lampau diungkapkannya.
Karena itu, menyadari keadaan diri,
maka tiba-tiba Kuda Sempana itu tertawa. Suaranya terdengar aneh, di antara
kemarahan yang menggelegak sampai ke kepalanya dan penghinaan terhadap setiap
orang yang tidak menyadari, bahwa mereka berhadapan dengan Kuda Sempana. Dan
disela-sela suara tertawanya itu terdengar ia berkata, “He, Mahisa Agni,
Apaknya kau berbangga atas kemenanganmu beberapa saat yang lampau di pinggir
belumbang di bendungan. Huh. Kau sangka bahwa aku sedemikian bodohnya untuk
kembali lagi ke Panawijen masih dalam tataranku yang dahulu? Sebenarnya aku
tidak ingin menunjukkan bahwa Kuda Sempana mampu memaksakan kehendaknya atas
siapa saja. Tetapi ternyata kau tidak menyadari keadaanmu. Karena itu, maka aku
masih akan mencoba untuk mencegah peristiwa-peristiwa yang semakin buruk
terjadi di sini.”
“Peristiwa itu tidak akan terjadi kalau
kau dapat mengerti perasaan orang lain, Kuda Sempana. Kalau dapat mengerti
perasaan anak-anak muda Panawijen, dan kalau kau dapat mengerti perasaan Ken
Dedes sendiri,” sahut Mahisa Agni.
“Hem,” Kuda Sempana menggeram, “apakah
kau benar-benar tidak mau melihat kenyataan tentang dirimu dan diriku?”
“Aku belum melihat kenyataan itu.”
“Baiklah,” berkata Kuda Sempana dengan
suara parau. Kemudian matanya yang merah itu menjadi semakin membara, “Apakah
aku harus membunuhmu?”
“Aku adalah kakak Ken Dedes. Kalau kau
akan mengambilnya dengan bertaruh nyawa, maka aku pun akan mempertahankannya
dengan taruhan yang sama.”
“Bagus!” teriak Kuda Sempana. Selangkah
ia maju dan tiba-tiba anak muda itu bersiap untuk menyerang.
Beberapa anak muda yang melihat sikap
itu segera berdesakan mundur. Mereka tidak mau tersentuh oleh kekuatan-kekuatan
yang tidak dapat mereka duga sebelumnya. Karena itu maka lebih baik mereka
menyingkir sejauh-jauhnya.
Kuda Sempana menjadi bangga melihat
anak-anak muda sebayanya, kawan-kawannya bermain semasa mereka masih
kanak-kanak sampai menginjak dewasa itu menjadi sedemikian takutnya melihat
sikapnya yang garang. Tetapi ia menjadi sangat marah ketika ia melihat Mahisa
Agni masih berdiri di tempatnya. Berdiri tegak seakan 2 tidak lagi dapat
digoyahkan oleh kekuatan apapun.
Mahisa Agni pun telah bersiap
sepenuhnya. apapun yang akan terjadi. Dengan penuh kewaspadaan anak muda itu
siap mempertahankan kehormatan keluarga gurunya.
“Tetapi apakah karena itu?” tiba-tiba
tersembul pertanyaan di dalam hati Mahisa Agni itu sendiri, “hanya karena
mempertahankan kehormatan keluarga gurunya?”
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Dengan
tanpa disadarinya ia menggelengkan kepalanya untuk mengusir kebimbangan yang
merayap di hatinya. Justru pada saat ia telah siap untuk mempertaruhkan
nyawanya.
Perasaan yang pernah menghunjam melukai
jantungnya itu masih saja sering mengganggunya. Dan kali ini pun perasaan itu
mengusiknya pula. Bukankah Ken Dedes itu bukan saudaramu? Bukan pula gadis yang
dapat mengerti perasaanmu? Kalau kemudian terjadi bencana atas dirinya, kenapa
kau mempertaruhkan nyawamu untuknya?
Mahisa Agni itu pun kemudian
mengatupkan giginya rapat-rapat. Dicobanya untuk menindas semua perasaan yang
simpang siur di kepalanya. Dan ketika sekali lagi terpandang olehnya Kuda
Sempana yang telah siap melontarkan serangan itu, maka Mahisa Agni pun segera
bergeser setapak.
Kuda Sempana melihat keragu-raguan yang
membayang di wajah Mahisa Agni. Karena itu ia berkata, ” Agni, apakah kau
mempunyai pertimbangan lain?”
Pertanyaan itu justru semakin membakar
hati anak muda itu. Justru semakin membulatkan tekadnya untuk mempertahankan
Ken Dedes itu.
“Persetan! Apapun sebabnya,” teriaknya
di dalam hatinya untuk menindas segala perasaan yang mencoba untuk mengabulkan
tekadnya.
Karena itulah maka terdengar Mahisa
Agni itu menjawab, “Ya. Aku menjadi ragu-ragu. Apakah aku sebaiknya membunuhmu
atau tidak.”
Kuda Sempana yang marah itu menggeram,
“Jangan terlalu sombong!”
Mahisa tidak menjawab. Tetapi ia siap
menunggu serangan sudah hampir terlontar.
Sebenarnya Kuda Sempana pun tidak
menunggu Mahisa Agni menjawab. Secepat kilat anak muda itu melontarkan sebuah
serangan ke arah dada Mahisa Agni. Namun Mahisa Agni pun telah siap pula
menanti serangan itu, sehingga dengan cepatnya pula ia sempat menghindarinya.
Kuda Sempana menyadari bahwa
serangannya yang pertama itu pasti tidak akan dapat mengenai lawannya, karena
itu, secepatnya pula ia menyerang berganda. Tetapi Agni pun tidak kalah
tangkasnya, sehingga serangan- serangan itu tak mengenai sasarannya.
Namun untuk seterunya Mahisa Agni tidak
saja membiarkan dirinya menjadi sasaran serangan-serangan Kuda Sempana. Sekali
ia berputar dan untuk seterusnya maka dengan garangnya ia pun melancarkan
serangan pula.
Demikianlah maka kini mereka berdua
terlibat dalam suatu perkelahian yang seru. Masing-masing telah dibakar oleh
kemarahan, dan masing-masing telah bertekad untuk mempertaruhkan nyawa mereka.
Karena itu, maka serangan-serangan mereka pun meluncur tanpa pengendalian.
Kuda Sempana yang merasa dirinya telah
mendapatkan bekal yang cukup, bertempur dengan penuh kebanggaan diri. Setiap
kali ia menyangka bahwa lawannya akan segera jatuh terjerembab dan dengan
demikian ia akan segera berhasil membawa Ken Dedes pergi. Tetapi setiap kali
pula ia menjadi kecewa, sebab lawannya mampu untuk menghindari setiap
serangan-serangan mautnya. Bahkan semakin lama, Kuda Sempana itu menyadari,
bahwa lawannya kali ini, meskipun kekuatannya sendiri telah jauh melampaui
masa-masa yang lewat, namun yang dihadapinya itu pun bukan Mahisa Agni yang
dahulu.
Beberapa kali Kuda Sempana mengumpat di
dalam hatinya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Mahisa Agni itu pun
memiliki kemampuan yang dapat mengimbangi kemampuannya.
Demikianlah maka perkelahian itu
menjadi semakin cepat, sehingga, kemudian mereka seakan-akan menjadi luluh
dalam sebuah putaran yang membingungkan. Yang dilihat oleh anak-anak muda
Panawijen itu adalah sebuah pusaran yang kalut. Hanya beberapa kali mereka
melihat bentuk-bentuk Mahisa Agni dan Kuda Sempana, namun sesaat kemudian
mereka telah meloncat dan melontar berputaran, sehingga yang tampak hanyalah
semacam gumpalan debu yang hitam putih bercampur baur.
Kuda Sempana itu ternyata benar-benar
memiliki kelebihan dari anak-anak muda kebanyakan. Tangannya yang tangkas dan
cepat bergerak menyambar-nyambar seperti sayap sepasang garuda yang berlaga di
udara. Namun lawannya adalah seekor burung rajawali yang tangkas. Itulah
sebabnya, maka keduanya kemudian menjadi seolah-olah dua ekor burung raksasa
yang sedang bertempur, berebut sakti untuk merajai kerajaan langit yang
terbentang dari kaki langit ke kaki langit di seputar bumi.
Tetapi semakin seru mereka bertempur,
maka semakin nyata bahwa Kuda Sempana menjadi sangat heran. Mahisa Agni itu seakan-akan
bahkan menjadi semakin segar, dan tenaganya bertambah-tambah. Kuda Sempana
mengharap ia akan segera dapat mengakhiri perkelahian itu. Namun harapannya itu
ternyata tak akan dapat dihayatinya. Kuda Sempana sama sekali tidak tahu, bahwa
Mahisa Agni itu pun baru saja kembali dari sebuah perjalanan yang berat.
Perjalanan yang memerlukan waktu berbulan-bulan untuk menempa dirinya. Menyadap
kesempurnaan ilmu yang dimiliki oleh gurunya. Meskipun kesempurnaan yang
dimilikinya adalah kesempurnaan yang tidak sempurna. Sebab tidak ada sesuatu
yang sempurna di permukaan bumi ini. Yang tampak maupun yang tidak tampak. Yang
sempurna hanyalah Yang Maha Sempurna.
Mahisa Agni menyadari sepenuhnya hal
ini, sebagaimana gurunya mengatakan kepadanya. Karena itu, maka Mahisa Agni
selalu menyadari pula, bahwa tidak ada ilmu yang tak dapat dilampaui. Yang
paling sakti akan dikalahkan pula oleh yang lain, dan yang lain itu pun
akhirnya akan jatuh pula. Sedang mereka yang terlalu cepat menepuk dada, maka
ialah yang paling cepat akan jatuh ke dalam jurang yang paling dalam. Dan
mereka yang tidak menyadarinya, maka alangkah pahit hidupnya.
Itulah sebabnya Mahisa Agni tidak
menyombongkan dirinya. Ia bertempur dengan hati-hati. Setiap kali ia berusaha
untuk mengetahui letak kekuatan lawannya dan baru dalam saat-saat yang pasti ia
menyerangnya. Ia tidak berani menduga, apakah ilmunya jauh lebih baik dari ilmu
lawannya, sebab tidak mustahil bahwa lawannya memiliki Kunci untuk
menghancurkan ilmunya. Tetapi Mahisa Agni bertempur dengan tabah. Ia tidak
takut apapun yang terjadi, namun ia tidak mengharap untuk dikalahkan oleh
lawannya. Karena itu, maka ia tidak kehilangan kewaspadaan.
Sehingga dengan demikian, maka Kuda
Sempana yang dikendalikan oleh nafsunya yang meluap-luap, dihambari oleh
kepercayaan kepada diri yang berlebih-lebihan, maka ia pun cepat menjadi cemas.
Ketika ia tidak segera dapat mengalahkan lawannya, maka ia menjadi gelisah.
Justru karena kegelisahannya itu, maka
tandangnya pun menjadi semakin kehilangan pengamatan. Sekali-sekali Kuda
Sempana telah membuat kesalahan-kesalahan kecil, sehingga Mahisa Agni yang
cermat itu segera dapat mempergunakan kesempatan itu. Kelemahan-kelemahan yang
betapapun kecilnya, akan dapat dipergunakan oleh lawannya dalam perkelahian
yang demikian. Dan kesalahan-kesalahan kecil itu pulalah yang sering membawa
mereka ke dalam suatu bencana yang besar.
Beberapa kali terasa oleh Kuda Sempana
tangan lawannya telah berhasil menerobos pertahanannya. Meskipun
sentuhan-sentuhan itu belum merupakan bahaya yang sebenarnya, namun bahwa
beberapa kali lawannya berhasil menembus ilmunya adalah merupakan suatu
pertanda yang kurang menyenangkan.
Tetapi lambat laun Kuda Sempana itu
menyadari pula keadaannya. Akhirnya ia merasa, bahwa Mahisa Agni benar-benar
mampu melawannya, bukan karena ia lengah. Bukan karena Kuda Sempana itu belum
menumpahkan segenap ilmunya. Namun Mahisa Agni benar-benar telah memiliki ilmu
tata bela diri yang setidak-tidaknya menyamainya.
Sekali terdengar Kuda Sempana itu
menggeram. Dahulu ia menjadi sangat marahnya, dan dipergunakannya sebilah keris
untuk mencoba membunuh Mahisa Agni. Tetapi kali ini Kuda Sempana sama sekali
tidak ingin mempergunakan sebilah keris. Ia meyakinkan bahwa tangannya akan
mampu meremukkan tulang belulang lawannya, melampaui sebuah tusukan keris.
Karena itulah, maka ia tidak dapat berbuat lain daripada menumpahkan
kemarahannya dalam ilmunya yang paling utama.
Karena itu, maka Kuda Sempana itu pun
meloncat mundur. Direntangkannya kedua tangannya, kemudian dengan cepat ia
melenting ke udara, untuk sesaat kemudian bersiap dalam sikap yang teguh kuat
seperti gunung yang siap untuk meledak.
Mahisa Agni terkejut melihat sikap itu.
Sesaat segera ia teringat kepada cerita Pasik tentang Kuda Sempana. Karena itu
maka segera ia pun bersiap. Dari bibirnya itu terdengar ia berdesis, “Kala
Bama.”
Kuda Sempana terkejut mendengar desis
itu. Mahisa Agni dapat menyebut dengan tepat nama ilmu yang akan
dipergunakannya.
Tetapi Kuda Sempana tidak sempat
mengetahui dari mana Mahisa Agni mendengar nama Kala Bama itu. Dan Kuda Sempana
pun tidak sempat memikirkan hal itu.
Mahisa Agni telah pernah membenturkan
diri dengan Aji Kala Bama itu. Karena itu, ketika ia melihat sikap Kuda Sempana
yang siap melontarkan kesaktiannya, maka Mahisa Agni pun segera membentengi
dirinya. Tidak saja ia mempertahankan namun karena kemarahan yang telah
memuncak pula, maka Mahisa Agni itu pun bersiap untuk membentur aji lawannya
dengan ajinya sendiri, Gundala Sasra.
Dengan demikian, maka Mahisa Agni itu
segera memusatkan segenap kekuatan lahir batin. Disilangkannya tangannya di
muka dadanya, dan pada lututnya ia merendahkan dirinya sedikit. Terasa getaran
di dadanya cepat mengalir ke segenap tubuhnya dan ke telapak tangannya.
Getaran-getaran yang sudah dikenalnya. Dan kini getaran-getaran itu terasa
semakin mudah dikuasainya. Sehingga waktu yang diperlukannya untuk
mempersiapkan diri menjadi semakin pendek pula.
Sesaat kemudian, ketika Kuda Sempana
siap mengayunkan aji pamungkasnya, maka Mahisa Agni pun telah bersiap
sepenuhnya pula untuk melawannya. Karena itu, demikian ia melihat Kuda Sempana
meloncat mengayunkan tangannya, maka Mahisa Agni pun segera melontar pula
menyongsong serangan Kuda Sempana.
Untuk kedua kalinya, terjadilah
benturan yang dahsyat antara Aji Kala Bama dan Aji Gundala Sasra. Benturan
antara dua kekuatan yang tiada taranya. Dan seperti yang pernah terjadi, maka
kali ini pun keduanya mengalami dorongan yang terasa seperti ledakan Gunung
Merapi.
Mahisa Agni terlontar beberapa langkah
surut, sekali ia terguling dan dengan mata yang berkunang-kunang ia mencoba
mengawasi keadaan lawannya.
Kuda Sempana pun terlempar pula. Dengan
kerasnya ia terbanting wajahnya yang merah menyala, tiba-tiba menjadi putih
pucat. Sesaat ia memejamkan matanya untuk memusatkan segenap sisa-sisa kekuatan
yang ada padanya, untuk menjaga dirinya, supaya tidak kehilangan kesadaran.
Demikianlah anak-anak muda Panawijen
melihat sesuatu yang belum dilihatnya selama hidup mereka. Mereka tidak tahu
lagi, bagaimana mereka harus menilai pertempuran itu. Beberapa di antara mereka
berloncatan mundur pada saat terjadi benturan antara dua kekuatan raksasa itu.
Bahkan ada di antara mereka yang tanpa sesadarnya telah menekan dada sendiri.
Seakan-akan dadanyalah yang telah terbentur oleh kekuatan aji yang dahsyat itu.
Beberapa orang menjadi ngeri. Dengan telapak-telapak tangan mereka menutupi
wajah masing-masing.
Namun sesaat kemudian mereka menarik
nafas ketika mereka melihat Mahisa Agni telah bangkit dan berdiri bertelekan
kedua lututnya. Tetapi sesaat yang pendek, Mahisa Agni itu pun telah tegak
kembali. Terasa pula kini padanya,bahwa ada kelebihan kekuatan dari Aji Gundala
Sasra dibandingkan dengan Kala Bima, sehingga karena itulah maka keadaan Mahisa
Agni masih lebih baik dari keadaan Kuda Sempana.
Meskipun demikian Kuda Sempana yang
keras hati itu perlahan-lahan dapat juga menguasai dirinya kembali. Ketika ia
membuka matanya dan dilihatnya Mahisa Agni masih tegak berdiri dengan garangnya
terdengar anak itu menggeram.
Dengan susah payah Kuda Sempana itu pun
memaksa dirinya untuk berdiri. Betapa sakit isi dadanya, namun dengan
mengatupkan giginya rapat-rapat ia mencoba menahan perasaan itu.
Dengan nafas terengah-engah Kuda
Sempana kemudian mampu juga untuk bangkit dan mencoba berdiri. Betapa lemahnya
tubuh yang kesakitan itu, namun akhirnya Kuda Sempana itu pun berbasil tegak
pula di atas kedua kakinya yang gemetar. Dengan mata yang menyala ia memandang
Mahisa Agni tanpa berkedip, sedang Mahisa Agni pun memandangnya dengan nyala
kemarahan di hatinya. Karena itu, maka ketika nafasnya telah teratur kembali,
terdengar suaranya bernada rendah, “Kuda Sempana Kesempatan terakhir bagi kita
masing-masing. Kau atau aku yang binasa.”
Kuda Sempana menggeram. Kalau Mahisa
Agni menyerangnya pada saat ia masih dalam keadaan itu, maka sudah pasti ia
tidak akan mampu untuk melawannya. Karena itu, maka ia mencoba untuk
mendapatkan waktu sejenak, mengatur jalan pernafasan dan mengurangi perasaan
sakit yang menyengat-nyengat segenap tubuhnya.
Ketika Mahisa Agni itu bergeser
setapak, maka Kuda Sempana itu berkata, “Hem, Agni. Dari mana kau tahu, bahwa
aku sedang menyiapkan aji Kala Bama?”
Mahisa Agni memandang Kuda Sempana
dengan seksama. Kemudian jawabnya, “Apakah pedulimu, dari mana aku tahu nama
itu?”
Kuda Sempana menggigit bibirnya. Namun
tiba-tiba mereka terkejut ketika mereka mendengar suara gemetar di samping
mereka, “Sudahlah Anakmas. Jangan bertengkar lagi.”
Ketika mereka berpaling, mereka melihat
seorang yang berdiri dengan ragu-ragu di antara anak-anak muda Panawijen.
Seorang yang bertubuh tinggi kekar, namun wajahnya membayangkan kecemasan yang
membakar dirinya. Orang itu adalah Ki Buyut Panawijen.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
Dengan berat terdengar suaranya, “Ki Buyut. Kuda Sempana telah berbuat untuk
kedua kalinya. Apakah kita masih akan memberi kesempatan kepadanya untuk
berbuat untuk ketiga kalinya?”
Buyut Panawijen itu ragu-ragu sejenak.
Namun kemudian kembali terbayang di wajahnya kecemasannya atas nasib
padukuhannya. Ia tahu benar siapa Kuda Sempana itu. Ia melihat anak muda itu
bertempur melawan Mahisa Agni. Dan ia melihat benturan ilmu yang dahsyat itu.
Karena itu, maka Buyut Panawijen itu telah membuat perhitungan tersendiri.
Kalau Kuda Sempana itu binasa di padukuhannya, maka apakah kawannya akan tetap
berdiam diri, dan apakah guru serta saudara-saudara seperguruannya juga akan
tetap berdiam diri. Seandainya mereka itu mencoba menuntut balas, maka apakah
Mahisa Agni dapat melindungi padukuhan itu dari bencana.
Tetapi Mahisa Agni tidak dapat melihat
kemungkinan itu. Kuda Sempana adalah seorang yang keras kepala. Karena itu maka
katanya, “Ki Buyut. Beberapa saat yang lampau,anak muda itu telah mendapat
kesempatan pula. Ki Buyut pada waktu itu telah memberinya peringatan, sedang
Empu Purwa pun saat itu memaafkannya. Tetapi kini ternyata ia datang kembali
selagi rumah ini kosong, Empu Purwa tidak ada dan aku pun tidak ada. Untunglah
aku segera kembali sebelum terlambat sekali.”
Buyut Panawijen mengerutkan keningnya.
Ia dapat mengerti sepenuhnya pendapat Mahisa Agni itu. Tetapi sekali lagi ia
dicemaskan oleh peristiwa-peristiwa yang dapat terjadi sebagai akibat dari
peristiwa ini.
Mahisa Agni yang melihat keragu-raguan
itu membayang di wajah Ki Buyut Panawijen, berkata, “Ki Buyut. Persoalan ini
bukan persoalan penduduk Panawijen dengan Kuda Sempana. Tetapi jadikanlah
persoalan ini persoalan antara Kuda Sempana dan Mahisa Agni. Kalau Akuwu
Tumapel merasa perlu untuk mengusut dan menghukum orang yang telah mencederai
Kuda Sempana, biarlah Mahisa Agni menjalani hukuman itu.”
Dada Kuda Sempana berdesir mendengar
kata-kata Mahisa Agni itu. Apakah yang akan dilakukan Mahisa Agni atasnya?
Namun dibiarkannya Mahisa Agni dan Ki Buyut itu berbicara. Ia mencoba
mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Ditenangkannya hatinya diperasnya
segenap kemampuan yang ada dalam dirinya untuk memulihkan kekuatannya. Dan
ternyata kekuatan Kuda Sempana itu lambat laun menjadi bertambah baik, meskipun
nyeri-nyeri masih terasa menyengat-nyengat bagian dalam dadanya, serta pedih-pedih
di kulitnya.
Dalam pada itu Ki Buyut Panawijen
berkata pula, “Apakah yang akan Angger lakukan atas Angger Kuda Sempana?”
“Aku akan menangkapnya, membawanya
kepada Sang Akuwu. Apakah Sang Akuwu tidak akan mengambil sesuatu tindakan atas
orangnya yang bersalah?” sahut Mahisa Agni.
Sekali lagi Kuda Sempana berdesir.
Kalau benar Mahisa Agni berhasil menangkapnya dan membawanya kepada Akuwu
Tunggul Ametung, maka akibatnya sama sekali tak akan dapat diduga. Mungkin ia
akan mendapat pengampunan dan hanya akan mendapat peringatan. Namun apabila
hati Akuwu itu sedang gelap, maka tidak mustahil seketika itu juga, perutnya
akan disobek dengan pusakanya. Akuwu itu mempunyai sifat-sifat yang aneh. Yang
tak dapat disangka-sangka dan diperhitungkan. Sehingga karena itulah maka ada
di antara naraprada yang terlalu setia kepadanya, namun ada juga yang menyimpan
dendam di dalam hatinya.
Mendengar jawaban Mahisa Agni itu.
Buyut Panawijen mengerutkan keningnya. Kalau demikian, maka apakah ia tidak
akan terbawa pula. Setidak-tidaknya akan menjadi saksi? Buyut Panawijen adalah
seorang yang hampir sepanjang hidupnya, hidup dalam suasana yang tenteram
damai. Hampir sepanjang jabatannya ia tidak pernah menjumpai
persoalan-persoalan yang mengharuskannya berhadapan dengan Akuwu Tumapel.
Pada saat Buyut Panawijen itu
berbimbang hati maka tiba-tiba ia terkejut melihat Wiraprana dengan wajah yang
merah biru tertatih-tatih keluar dari halaman Empu Purwa. Demikian Wiraprana
itu melihat Mahisa Agni, maka dengan serta-merta ia berkata, “Hem. Syukurlah
kau sudah datang Agni.”
Mahisa Agni berdesir melihat wajah yang
biru lebam itu. Agaknya Wiraprana pun telah berjuang mati-matian. Namun
keadaannya tidak memungkinkan untuk mencegah perbuatan Kuda Sempana itu.
Dalam pada itu terdengarlah Ki Buyut
Panawijen bertanya kepada anaknya itu, “Wiraprana, apakah yang telah terjadi?”
“Seperti yang Ayah lihat. Untuk kedua
kalinya aku hampir mati dibunuh oleh Kuda Sempana. Apabila ada kesempatan, Kuda
Sempana pasti akan membunuhku dalam pertikaian yang ketiga.”
Mendengar kata-kata anaknya itu, maka
mau tidak mau dada Buyut Panawijen itu terguncang pula, Agaknya apa yang
dikatakan anaknya itu benar-benar dapat terjadi. Kuda Sempana benar-benar tidak
mau melepaskan maksudnya untuk mendapatkan Ken Dedes yang sudah dipertunangkan
dengan anaknya itu. Karena itu, maka kini Buyut Panawijen itu terpaksa
mengambil beberapa bebahu baru untuk memperhitungkan setiap kemungkinan.
Dengan wajah yang tegang, maka sekali
lagi ia memandangi Kuda Sempana, Mahisa Agni dan anaknya berganti-ganti. Sekali
ia menarik nafas dalam-dalam, namun kemudian kembali ia menjadi bingung.
Kuda Sempana yang berdiri tegak seperti
patung itu, Kini telah mendapat waktu untuk sedikit mendapatkan kekuatannya
kembali
Namun disadarinya, bahwa ia tidak akan
mampu mengalahkan Mahisa Agni. Ternyata Mahisa Agni pun telah mendapatkan
kekuatan-kekuatan baru, sehingga ia mampu melawan Aji Kala Bama, dan bahkan
dapat melampauinya. Karena itu, maka sesaat ia menjadi bimbang pula. Apakah ia
masih harus melawannya? Dengan demikian, maka hampir pasti bahwa Mahisa Agni
akan berhasil menangkapnya.
Ketika Kuda Sempana itu masih sibuk
mempertimbangkan setiap kemungkinan, terdengarlah Mahisa Agni menggeram, “Ki
Buyut yang bijaksana. Serahkan semua persoalan kepadaku, dan serahkan semua
pertanggungan jawab kepadaku. Kuda Sempana harus mendapat hukuman yang wajar.
Tidak di Panawijen, tetapi di Tumapel. Sehingga meyakinkan kita, bahwa untuk
seterusnya ia tidak akan membuat kegaduhan kembali.”
Buyut Panawijen itu masih bimbang
sesaat, namun kemudian tampaklah ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi
belum sepatah kata pun yang terloncat dari mulutnya. Semua orang yang berdiri
di sekitarnya menjadi tegang. Semua memandang kepada orang tua itu Dalam
ketegangan itu terdengar suara Wiraprana, “Apakah Ayah masih ingin melihat
perkelahian dan keributan di Panawijen ini? Atau Ayah ingin melihat setan itu
kelak membunuh aku?”
Ki Buyut Panawijen itu mengangkat
wajahnya. Seakan-akan ada yang dicarinya di antara awan yang mengalir dihanyutkan
oleh pegunungan yang lembut. Orang tua itu menarik nafas ketika dilihatnya
segerombolan burung terbang melintas di atas kepalanya
Burung itu kemudian seperti lenyap
ditelan kebiruan langit di atas cakrawala.
Hati orang tua itu berdesir. Dari arah
yang lain Buyut Panawijen melihat seekor alap-alap terbang ke arah burung yang
bergerombol itu. Kalau burung alap-alap itu kemudian menyambar salah seekor
burung yang bergerombol itu, maka tak ada seekor pun yang akan berani mencoba
mencegah dan melawannya. Bersama-sama pun tidak, karena Burung alap-alap itu
jauh lebih kuat dari burung-burung itu.
Orang-orang yang berdiri mengitari
Mahisa Agni masih tegak seperti patung ,Agak jauh dari mereka berdiri dengan
tegangnya Kuda Sempana yang terpelanting karena benturan aji masing-masing.
Sedang Ki Buyut Panawijen masih saja ragu-ragu mengambil keputusan.
Dalam kekakuan suasananya itu,
sekali-kali Kuda Sempana mengerling ke segenap sudut. Ia sedang berpikir untuk
mencoba mencari jalan yang akan dapat menyelamatkannya. Kalau ia bertempur
sekali lagi, maka ia sadar, bahwa ia tidak akan dapat melawan Mahisa Agni.
Apalagi kalau beberapa orang membantu Mahisa Agni untuk menangkapnya.
Sementara itu Mahisa Agni sedang
menunggu dengan gelisahnya, apa yang akan dikatakan oleh Ki Buyut Panawijen.
Bagaimanapun juga, Mahisa Agni harus tetap menghormati keputusannya sebagai
seorang tetua dari padukuhan itu, sedang anaknya, yang wajahnya biru lebam itu,
hampir-hampir tidak sabar menunggunya.
Dalam ketegangan itu, tiba-tiba terjadilah
sesuatu yang sama sekali tidak mereka sangka. Kuda Sempana itu tiba-tiba
meloncat dengan sisa-sisa tenaga yang ada padanya, berlari kencang meninggalkan
orang yang sedang kebingungan itu. Sesaat tak seorang pun yang bergerak diri
tempatnya. Mereka terkejut melihat sikap Kuda Sempana. Yang mula-mula menyadari
keadaan itu adalah Mahisa Agni. Tanpa menghiraukan apapun lagi, Mahisa Agni itu
segera berlari mengejarnya.
Tetapi dada anak muda murid Empu Purwa
itu segera berdesir tajam. Kuda Sempana yang memiliki kelebihan beberapa kejap
serta jarak beberapa langkah itu ternyata berlari menuju ke kuda Mahisa Agni
yang sedang sibuk makan dedaunan di pagar-pagar dan rerumputan liar di
tepi-tepi jalan.
“Kuda Sempana!” teriak Mahisa Agni,
“Manakah kejantananmu itu?”
Kuda Sempana tidak memedulikannya. Ia
berlari sekuat tenaga yang masih ada padanya. Dan sebelum Mahisa Agni berhasil
menangkapnya, anak muda itu telah meloncat ke atas punggung kuda.
“Kuda Sempana!” teriak Mahisa Agni
sekali lagi.
Tetapi Kuda Sempana tidak
menghiraukannya lagi. Cepat-cepat ditariknya kendali kudanya, dan dengan sebuah
sentuhan pada perutnya, maka larilah kuda itu menghambur seperti angin.
Meskipun demikian Kuda Sempana itu
masih sempat berteriak nyaring, “Mahisa Agni. Sekali akan datang waktunya, aku
membalas semua sakit hatiku kepadamu, kepada penduduk Panawijen, kepada
semuanya.”
“Licik!” teriak Mahisa Agni. Dengan
serta ia meraih sebutir batu dan dilemparkannya kepada Kuda Senapan. Namun kuda
yang dinaiki oleh anak muda itu sudah semakin jauh. Meskipun demikian batu itu
masih juga mengenai tengkuk Kuda Sempana.
“Setan!| desis Kuda Sempana. Terasa
tengkuknya menjadi sakit. Tetapi ia sudah semakin jauh dan Mahisa Agni itu
tidak akan dapat menyusulnya lagi.
Mahisa Agni kini berdiri tegak seperti
sebuah tonggak yang membeku. Wajahnya membara karena kemarahannya,
sekali-sekali terdengar ia menggeram. Dipandanginya debu yang mengepul tinggi
yang dilemparkan oleh kaki-kaki kuda yang berlari seperti dikejar hantu.
Nafas Mahisa Agni itu pun terasa
berkejaran lewat lubang hidungnya. Terdengar giginya gemeretak di antara
suaranya yang menggeram seperti harimau yang sedang marah.
Dalam ketegangan itu, tiba-tiba ia
mendengar Wiraprana berteriak, “Agni! Di halaman rumah ini ada seekor kuda.
Kuda yang tadi dipakai oleh Kuda Sempana.”
Mahisa Agni terkejut Segera ia
berpaling sambil bertanya, “Adakah seekor kuda di halaman?”
“Ya,” sahut Wiraprana.
Namun Mahisa Agni kemudian menjadi
kecewa kembali. Ia telah kehilangan beberapa waktu. Kuda yang tadi dinaikinya
adalah kuda yang luar biasa. Dengan seekor kuda yang lain. apakah ia akan mampu
mengejar Kuda Sempana? Kalau Kuda Sempana itu sampai di Tumapel lebih dahulu,
maka ia tidak akan dapat mencarinya. Apalagi kalau Kuda Sempana itu bersembunyi
di dalam istana. Karena itu dengan penuh kekecewaan yang mencengkam dadanya
akhirnya ia berkata, “Tidak ada gunanya. Kuda itu sudah terlalu jauh.”
“Kuda itu baik dan tegar. Kuda yang
biasa dipakai oleh Kuda Sempana,” jawab Wiraprana
Sekali lagi sekilas harapan Mahisa Agni
untuk menyusul anak muda itu. Kuda itu adalah kuda yang tegar seperti yang
dilihatnya di Tumapel. Karena itu, maka Mahisa Agni itu meloncat tanpa berkata
sepatah kata pun langsung masuk ke halaman. Dan. dilihatnya kuda itu masih
berdiri di sana.
Dengan tangkasnya Mahisa Agni itu
segera meloncat ke atas punggungnya, dan dengan tergesa-gesa ditariknya kekang
kuda itu. Sesaat kemudian kuda itu pun segera meloncat pula berlari. Sambil
memacu kudanya Mahisa Agni berteriak, “Hati-hatilah di rumah. Aku akan mengejar
Kuda Sempana sampai ke manapun. Aku tak akan kembali sebelum aku menyelesaikan
pekerjaan ini.”
Tak seorang pun sempat menjawab. Kuda
yang dinaikinya itu pun ternyata kuda yang sangat baik. Karena itu, maka kuda
itu berlari lepas seperti anak panah yang lepas dari busurnya.
Mereka yang menyaksikan perlombaan
berkuda itu menahan napas mereka. Mereka melihat peristiwa demi peristiwa
seperti di dalam mimpi, sehingga untuk beberapa saat mereka terpesona dan diam
mematung di tempat masing-masing.
Mahisa Agni yang telah dibakar oleh
kemarahannya itu memacu kudanya secepat angin. Tetapi disadarinya pula bahwa
kuda yang dipakai oleh Kuda Sempana itu pun kuda yang baik pula, sebaik kuda
yang dipakainya. Karena itu, maka kemungkinan untuk dapat menyusulnya adalah kecil
sekali. Tetapi meskipun Mahisa Agni tidak akan dapat menyusulnya, namun ia akan
pergi ke Tumapel, mencari kesempatan untuk bertemu dengan anak muda itu. Mahisa
Agni sudah tidak memperhitungkan lagi, apa yang dapat terjadi atas dirinya
seandainya Kuda Sempana mengerahkan beberapa orang kawan untuk melawannya.
Namun ia yakin, bahwa ia berada di pihak yang benar. Karena itu, maka Akuwu
Tumapel pasti akan menghukum Kuda Sempana kalau ia mempunyai kesempatan untuk
menyampaikannya, atau Akuwu itu dapat mendengar dari siapa pun.
“Kalau aku tidak dapat menemui Kuda
Sempana atau menghadap Akuwu, maka aku akan mencoba minta pertolongan
Witantra,” katanya di dalam hati, “anak muda itu pun seorang yang agak dekat
pula dengan Akuwu.”
Mendapat cara yang dianggapnya baik
itu, Mahisa Agni semakin mantap. Kudanya berpacu melewati jalan-jalan berdebu.
Dilihatnya kemudian di hadapannya terbentang padang rumput Karautan.
“Apakah Kuda Sempana juga melewati
padang itu?” pertanyaan itu timbul di dalam hatinya, “Kalau ia memilih jalan
lain, lewat Talrampak misalnya, maka ada kemungkinan bagiku untuk menyusulnya
sebelum ia sampai ke Tumapel.”
Tetapi Mahisa Agni menjadi kecewa. Ia
melihat telapak kuda yang baru menghunjam dalam-dalam di muka kaki kudanya
menjelujur ke arah yang ditempuhnya pula,
“Hem,” geramnya, “anak itu lewat padang
ini pula.”
Karena itu Mahisa Agni menjadi kecewa.
Harapannya untuk menyusul Kuda Sempana menjadi semakin tipis. Tetapi ia tidak
berputus asa. Kini ia tidak menempuh jalan setapak yang dilewati Kuda Sempana.
Dipotongnya arah menerobos padang rumput itu dan dilewatinya gerumbul-gerumbul
kecil yang bertebaran di sana-sini.
“Mudah-mudahan aku berhasil,” gumamnya.
Kuda yang dipakai Mahisa Agni itu
sebenarnya adalah kuda yang sangat baik. Betapa lincahnya kuda itu menghindari
rintangan-rintangan yang berada di hadapannya. Dengan tangkas kuda itu
meloncati gerumbul-gerumbul kecil dan lubang-lubang yang digali oleh air hujan.
Ketika kemudian Mahisa Agni telah
melampaui padang itu, serta diikutinya pula jalan yang meninggalkan padang
rumput itu, dilihatnya jauh di hadapannya debu yang naik ke udara.
“Itulah!” gumamnya, “Mudah-mudahan aku
tidak kehilangan Kuda Sempana kali ini.”
Meskipun kudanya itu telah berlari
sekencang angin, namun Mahisa Agni merasa seakan-akan kuda itu merangkak saja
dengan malasnya. Berkali-kali dilecutinya kuda itu dengan ujung kekangnya.
namun masih saja terasa bahwa kuda itu berlari terlalu lamban.
Beberapa orang yang bekerja di
sawah-sawah mereka, memandangnya dengan penuh pertanyaan di dalam hati. Apakah
sedang ada perlombaan berpacu kuda?
Para petani itu saling berpandangan
satu sama lain. Tetapi tak seorang pun yang tahu, apakah yang sedang dilakukan
oleh anak-anak muda yang memacu kudanya seperti takut dikejar hantu.
“Anak-anak muda memang kadang-kadang
aneh,” gumam salah seorang dari mereka, “mereka memacu kudanya seperti dikejar
setan. Apakah mereka tidak takut seandainya kudanya itu tergelincir dan
terguling?”
Tetapi sesaat kemudian kembali mereka
melakukan pekerjaan mereka Dua anak muda yang berpacu berturut-turut itu tentu
akan menjadi bahan pembicaraan mereka nanti di gardu-gardu atau di
banjar-banjar desa.
Mahisa Agni sama sekali tidak
menghiraukan apa yang telah dilewatinya. Matanya tertancap pada debu yang
keputih-putihan yang seakan-akan merayap dengan cepatnya di jalan-jalan berdebu
di hadapannya Tetapi Mahisa Agni itu menjadi kecewa karena jarak di antara
mereka tidak menjadi semakin pendek.
Kuda Sempana yang berpacu di muka itu
pun telah memperhitungkan kemungkinan, bahwa Mahisa Agni akan mempergunakan
kudanya untuk mengejarnya. Karena itu sejak loncatan pertama kudanya telah
dipacunya secepat mungkin. Dan Kuda Sempana itu menjadi. berbesar hati, karena
ternyata kuda yang dipakainya itu pun merupakan kuda yang tidak kalah kuatnya
dari kudanya sendiri.
Ketika Kuda Sempana itu kemudian
menengadahkan wajahnya maka ia pun tersenyum. Setelah ia berpacu beberapa lama,
maka di langit seakan-akan terbentang cahaya yang suram dan di bumi mulailah
gelap merayap dari kaki-kaki bukit, merambat ke puncaknya. Namun sesaat Kuda
Sempana masih melihat debu mengepul jauh di belakangnya. Dan disadarinya bahwa
Mahisa Agni sedang mengejarnya. Tetapi apabila malam tiba, maka kesempatannya
untuk melepaskan diri menjadi semakin besar.
Mahisa Agni menjadi sengat kecewa
ketika malam datang meskipun perlahan-lahan. Warna keputih-putihan yang
mengepul di hadapannya menjadi semakin lama semakin kabur. Dan akhirnya Mahisa
Agni kehilangan kesempatan untuk dapat melihat debu yang dilemparkan oleh kuda
yang dipakai oleh Kuda Sempana itu.
“Hem,” Mahisa Agni menggeram. Tetapi
kemudian ia bergumam, “Kalau aku tidak dapat menemukannya malam ini, biarlah
aku menunggu sampai besok atau lusa. Kalau aku menunggunya di alun-alun maka
suatu waktu aku pasti akan melihatnya keluar atau memasuki istana Akuwu.”
Karena itu Mahisa Agni tidak berhenti
berpacu. Ia mengharap seandainya ada sesuatu yang menghambat perjalanan Kuda
Sempana maka ia akan mendapat kesempatan itu.
Tetapi Kuda Sempana berjalan tanpa
hambatan. Kudanya berlari dengan kencangnya menuju ke kota kebanggaannya, di
mana ia mendapat kesempatan yang baik di dalam hidupnya. Tumapel. Dan Tumapel
itu semakin lama semakin dekat.
Itulah sebabnya, maka kembali Kuda
Sempana tersenyum. Ketika ia berpaling, dilihatnya di belakangnya warna hitam
yang kelam.
Karena itulah maka hati Kuda Sempana
menjadi semakin besar. Maka kini dapatlah dipastikan, bahwa kali ini ia akan
dapat menghindarkan diri dari Mahisa Agni.
“Kali ini aku masih kalah Agni,”
katanya di dalam hati, “tetapi aku akan datang kembali membawa kemenangan.
Ternyata aku tidak akan berhasil memetik bunga itu. Karena itu, maka biarlah
angin yang lebih kencang menggugurkannya.”
Sementara itu, Mahisa Agni benar-benar
kehilangan jejak buruannya. Ketika malam menjadi semakin kelam, ia tidak tahu
lagi, ke mana Kuda Sempana melarikan diri. Apalagi ketika Kuda Sempana telah
mematuki kota. Berpuluh-puluh jalan simpang yang dapat ditempuhnya. Dan
berpuluh-puluh pintu yang dapat dimasukinya.
Karena itu, maka ketika kuda Mahisa Agni
memasuki gerbang kota Tumapel, maka segera ia memperlambat jalan kudanya. Ia
takut kalau derap kaki kuda itu akan mengejutkan setiap orang yang tinggal
sebelah menyebelah jalan yang dilewatinya. Meskipun demikian, hati Mahisa Agni
menjadi sangat kecewa. Serta ia menjadi bingung, ke mana ia harus pergi.
Yang mula-mula tersirat di dalam
hatinya adalah rumah Witantra. Orang itu belum banyak dikenalnya, namun dalam
waktu yang pendek ia mendapat kesan, bahwa anak muda itu adalah anak muda yang
jujur meskipun agaknya terlalu keras memegang ketetapan. Ketetapan yang berlaku
dalam tata pergaulannya sebagai seorang prajurit, ketetapan yang berlaku di
dalam tata pergaulannya sehari-hari di luar lingkungan keprajuritan dan bahkan
ketetapan-ketetapan yang dibuatnya di dalam hatinya sendiri.
Tetapi tak ada orang lain yang dapat
disinggahinya di Tumapel. Di kota itu belum banyak orang-orang yang dikenalnya
dengan baik. Ada satu dua orang sahabat-sahabat gurunya, tetapi sahabat-sahabat
gurunya itu pun belum begitu mengenalnya. Karena itu, maka tak ada yang dapat
ditempuhnya selain pergi ke rumah Witantra itu. Kecuali ia akan mendapat tempat
untuk bermalam apabila anak muda itu tidak berkeberatan, maka banyak hal-hal
yang dapat ditanyakannya kepadanya tentang Kuda Sempana dan tentang Akuwu
Tumapel.
Maka dengan agak ragu-ragu akhirnya
Mahisa Agni pergi juga ke rumah Witantra.
Meskipun malam belum terlalu dalam,
namun rumah itu sudah tampak sepi. Karena itu maka Mahisa Agni menjadi semakin
ragu-ragu. Di muka regol halaman dihentikannya kudanya, dan perlahan-lahan kuda
itu dituntunnya masuk ke halaman.
Tetapi Mahisa Agni melihat nyala pelita
yang terang di pringgitan rumah itu. Karena itu ia menjadi gembira. Agaknya
penghuni rumah itu ada di rumahnya.
Dengan, hati-hati Mahisa Agni mengetuk
pintu depan, dan terdengarlah sebuah sapa dari dalam, “Siapa?”
“Aku, Wiraprana,” sahut Agni.
“He?” terdengar seseorang terkejut
mendengar jawaban Agni. Sesaat kemudian terdengar pula langkah seseorang
membuka pintu.
Ketika pintu itu terbuka, Mahisa Agni
melihat Witantra berdiri di muka pintu sambil menatapnya.
“Kau,” desis Witantra terkejut.
“Ya,” sahut Mahisa Agni, “aku datang
kembali.”
“Mari, masuklah,” Witantra itu
mempersilakan.
Mahisa Agni itu pun kemudian masuk ke
dalam pringgitan. Dengan membungkukkan badannya ia memberi hormat kepada dua
orang perempuan yang kemudian berdiri dan
membalas anggukan kepala itu.
“Silakan,” berkata perempuan yang tua,
“kami akan ke belakang.”
Mahisa Agni itu pun kemudian duduk
bersama Witantra. Ternyata kedua perempuan itu adalah ibu dan istrinya.
Dengan penuh keheranan Witantra itu pun
kemudian bertanya, “Kenapa kau cepat kembali? Apakah kau terlambat datang?”
Mahisa Agni menggeleng. “Tidak. Aku
datang kembali untuk menyampaikan terima kasihku kepadamu. Karena
pertolonganmu, mala aku masih sempat menggagalkan maksud Kuda Sempana itu.”
“Syukurlah,” gumam Witantra,
“sebenarnya kuda itu tidak terlalu tergesa-gesa. Aku masih memiliki yang lain.”
“Terima kasih,” sahut Agni. Namun
kemudian diceritakan apa yang telah terjadi, dan dikatakannya pula, bahwa kuda
yang dibawanya adalah kuda milik Kuda Sempana.
Witantra menarik nafas dalam-dalam.
“Bukan main,” gumamnya, “anak itu benar-benar keras kepala.”
“Witantra,” berkata Mahisa Agni
kemudian, “aku ingin mendapatkan nasihatmu. Apakah yang sebaiknya aku lakukan
atas anak muda itu. Apakah aku harus menyampaikannya kepada Akuwu Tunggul
Ametung atau aku harus menemuinya sendiri?”
Witantra menggelengkan kepalanya.
“Sulit,” desisnya, “Akuwu Tunggul Ametung adalah seorang yang aneh. Aku adalah
pengawalnya yang hampir setiap hari bergaul. Namun aku masih belum juga
mengenal sifat-sifatnya dengan baik. Akuwu itu adalah seorang yang ramah dan
baik hati, namun ia adalah seorang yang kejam dan kasar.”
Witantra itu berhenti sesaat, dan
Mahisa Agni pun menundukkan kepalanya. Direnungkannya setiap kemungkinan yang
dapat ditempuhnya. Tetapi ia tidak menemukan cara apapun yang dianggapnya baik.
Tanpa sesadarnya tiba-tiba terloncat dari mulutnya, “Tetapi aku harus
mencegahnya untuk mengulangi perbuatannya.”
“Ya,” sahut Witantra, “kau benar.”
“Tetapi bagaimana?”
Witantra itu pun kemudian berdisain
diri pula. Karena itu, maka pringgitan itu menjadi sepi. Lampu minyak yang
menyala tersangkut di dinding di atas gelodok melemparkan sinar kemerah-merahan.
Lidahnya yang seolah-olah melonjak-lonjak telah mencetak bayangan yang hitam
dan bergerak-gerak.
Witantra itu kemudian mengangkat
wajahnya sambil berkata, “Besok Akuwu akan berburu. Aku telah mendapat perintah
untuk mengikutinya.”
“Berburu?” bertanya Mahisa Agni, “ke
mana?”
Witantra itu tidak segera menjawab. Ia
memang tidak tahu ke mana Akuwu akan berburu. Sehingga sejenak kemudian
katanya, “Akuwu Tunggul Ametung tidak pernah merencanakan, ke mana akan
berburu. Apabila rombongan telah bersiap, barulah Akuwu bertanya kepada para
pengiringnya, ke mana sebaiknya mereka pergi. Namun kadang-kadang Akuwu sendiri
menentukan arah perjalanan rombongan itu. Karena itulah maka sampai sekarang
aku belum tahu ke mana besok aku akan pergi.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan
kepalanya. Tetapi ia belum tahu apakah hubungannya dengan keperluannya mencegah
perbuatan Kuda Sempana seterusnya. Baru kemudian setelah Witantra itu berkata,
ia mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Wiraprana,” berkata Witantra, “kau
besok bisa tinggal di sini selama aku pergi. Biasanya Kuda Sempana ikut pula
mengantarkan Akuwu, sehingga dengan demikian, aku akan dapat selalu
mengawasinya. Dengan demikian maka kita mempunyai waktu sehari untuk memikirkan
persoalanmu itu. Apabila besok Kuda Sempana tidak ikut, biarlah aku
memberitahukan kepadamu, dan segeralah pulang ke Panawijen.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan
kepalanya. Sekali lagi ia mengucapkan terima kasih kepada Witantra itu.
Kemudian katanya, “Aku selalu mengganggumu dengan pekerjaan-pekerjaan yang
menjemukan.”
Witantra menggeleng, jawabnya, “Kita
saling memerlukan dalam setiap kesempatan. Aku tahu, bahwa Kuda Sempana telah
melakukan kesalahan. Karena itu aku harus membantu mencegah kesalahan-kesalahan
berikutnya, meskipun aku tidak dapat berbuat secara langsung. Sebab dengan
demikian akan dapat menimbulkan keretakan dalam lingkungan istana.
Setidak-tidaknya antara aku dan Kuda Sempana yang kedua-duanya hamba-hamba
istana.
(bersambung ke Jilid 8)